Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah menyetujui penjualan senjata senilai US$1,96 miliar (sekitar Rp33,5 triliun) untuk memperkuat pertahanan udara Arab Saudi. Persetujuan ini diumumkan pada Rabu (15/7/2026) waktu setempat, di tengah meningkatnya ketegangan perang di Timur Tengah.
Tujuan Penjualan Senjata
Dalam sebuah pernyataan resmi, Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa penjualan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan sekutu utama non-NATO yang menjadi kekuatan stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Teluk. Arab Saudi dianggap sebagai mitra penting dalam menjaga stabilitas regional.
Penjualan ini mencakup hingga 20.000 unit Sistem Senjata Pembunuh Presisi Canggih (Advanced Precision Kill Weapon Systems/APKWS) beserta hulu ledaknya. Menurut situs web Angkatan Laut AS, sistem ini digambarkan sebagai cara yang murah untuk menghancurkan target sambil membatasi kerusakan tambahan dalam pertempuran jarak dekat.
Kontraktor dan Dampak
Kontraktor utama untuk penjualan ini adalah BAE Systems yang berbasis di Nashua, New Jersey. Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi untuk mencegah ancaman saat ini dan di masa mendatang, memperkuat pertahanan dalam negerinya, serta meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan AS dan pasukan regional serta NATO lainnya.
Langkah ini diambil ketika Arab Saudi berada di ambang perang baru dengan kelompok milisi Houthi di Yaman. Pada hari Senin lalu, Houthi menembakkan rudal ke bandara di kota Abha, Arab Saudi selatan. Serangan tersebut terjadi setelah pasukan pemerintah Yaman menyerang bandara Sanaa untuk mengalihkan penerbangan yang kembali dari pemakaman pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang membawa delegasi Houthi. Kelompok Houthi yang didukung Iran menyalahkan Saudi atas serangan tersebut.
Ketegangan dengan Iran
Penjualan senjata ini juga terjadi di tengah meningkatnya gelombang serangan AS terhadap Iran, setelah AS memberlakukan kembali blokade angkatan laut. Kedua negara tersebut kembali terlibat dalam konflik. Departemen Luar Negeri AS memastikan bahwa tidak akan ada dampak buruk pada kesiapan pertahanan AS sebagai akibat dari penjualan yang diusulkan ini.
Keputusan ini menunjukkan komitmen AS untuk mendukung sekutunya di kawasan Teluk, meskipun ada kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.



