Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada Rabu (15/7/2026) malam, menargetkan kemampuan militer yang dinilai digunakan untuk mengancam kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara dan peringatan Presiden AS Donald Trump kepada Teheran agar “bersikap baik”.
Operasi Militer AS di Selat Hormuz
Dalam operasi terpisah, pasukan AS juga menembaki sebuah kapal yang disebut berusaha menerobos blokade terbaru terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini merupakan respons atas klaim Iran yang telah menggempur sejumlah target militer AS di kawasan tersebut, termasuk fasilitas di Bahrain dan Kuwait.
Ketegangan Meningkat Setelah Ancaman Iran
Serangan AS berlangsung setelah Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz hingga AS menghentikan serangan. Iran juga melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dikabarkan membidik jalur minyak lain sebagai bentuk perlawanan.
Menurut pernyataan resmi militer AS, operasi ini bertujuan untuk melindungi kebebasan navigasi dan keamanan jalur pelayaran internasional. “Kami tidak akan membiarkan ancaman terhadap kapal-kapal kami dan sekutu,” kata seorang pejabat militer AS yang enggan disebutkan namanya.
Dampak Serangan Terhadap Stabilitas Regional
Serangan ini memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dunia, dan gangguan di sana dapat berdampak pada harga energi global. Belum ada pernyataan resmi dari Iran mengenai serangan terbaru ini.



