Seorang pejabat Amerika Serikat memperingatkan bahwa AS tidak memiliki cukup rudal untuk kembali terlibat perang habis-habisan dengan Iran. Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara, dengan Presiden AS Donald Trump dikabarkan mempertimbangkan opsi untuk melancarkan "perang yang lebih luas" melawan Teheran. Semakin banyak pesawat tempur Amerika dikerahkan ke Timur Tengah, namun persediaan pertahanan udara dan amunisi jarak jauh semakin menipis.
Trump Marah, Ancaman Balasan untuk Iran
Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa Iran akan menanggung akibatnya "berkali-kali lipat" atas tewasnya tentara-tentara Amerika dalam perang dengan republik Islam tersebut. Pernyataan ini disampaikan setelah sejumlah personel militer AS gugur selama akhir pekan dalam perang melawan Iran. Sejauh ini, sedikitnya 17 tentara AS tewas dalam perang yang berkecamuk selama hampir lima bulan. Dua personel militer di antaranya dipastikan tewas akibat serangan rudal Iran yang menghantam pangkalan AS di Yordania, sedangkan satu jenazah tentara AS lainnya sedang diperiksa.
Pentagon Rahasiakan Korban Luka
Laporan New York Times (NYT) mengungkapkan bahwa Pentagon atau Departemen Pertahanan AS merahasiakan informasi mengenai puluhan tentara AS yang terluka akibat rentetan serangan Iran terhadap pangkalan AS di negara-negara Teluk. NYT, yang mengutip sejumlah pejabat AS yang berbicara secara anonim, seperti dilansir Press TV pada Selasa (21/7/2026), menyebutkan bahwa rentetan serangan rudal balistik Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania dan pangkalan-pangkalan lainnya di kawasan tersebut telah menimbulkan korban luka dan memicu kerusakan. "Serangan-serangan tersebut melukai puluhan personel militer AS dan merusak beberapa helikopter," sebut NYT dalam laporannya, merujuk pada serangan rudal Iran pekan lalu.
Garda Revolusi Iran Beri Peringatan Keras
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bersumpah untuk memberi Amerika Serikat pelajaran yang tak terlupakan, yang akan mencegah siapa pun yang berupaya melakukan agresi terhadap Iran. Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada hari Senin (20/7) waktu setempat, Komando Tinggi IRGC mengatakan bahwa pasukan tersebut akan terus mematuhi arahan dan perintah Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, dalam membela kedaulatan dan integritas wilayah Iran. Pernyataan tersebut merupakan tanggapan terhadap pesan baru-baru ini dari Mojtaba Khamenei yang menyerukan persatuan nasional dalam menghadapi serangan baru AS terhadap negara tersebut.
Serangan Terbaru Iran: Target AS di Bahrain dan Kuwait
Garda Revolusi Iran (IRGC) kembali menyerang aset militer AS di Bahrain dan Kuwait. Fasilitas militer AS yang diserang merupakan sistem pertahanan udara. Dilansir AFP pada Selasa (21/7/2026), IRGC mengatakan mereka menyerang dua sistem pertahanan udara dan instalasi radar di dua pos terdepan AS yang berbeda di Bahrain. Serangan militer Iran juga menghantam sistem pertahanan rudal dan radar serta sistem penerimaan satelit di Kuwait. "Dengan sapuan radar ini, musuh harus bersiap untuk gelombang serangan drone dan rudal yang lebih menentukan dan kuat," kata Garda Revolusi Iran dalam sebuah pernyataan yang dimuat oleh IRNA.
Keterbatasan Rudal AS Jadi Kendala
Seorang pejabat AS yang mengetahui pembahasan pemerintah mengungkapkan bahwa operasi militer lebih lanjut akan dibatasi oleh menipisnya persediaan pertahanan udara dan amunisi jarak jauh. Meskipun Trump mempertimbangkan opsi perang yang lebih luas, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa AS mungkin tidak memiliki kapasitas untuk melancarkan konflik skala penuh melawan Iran saat ini. Situasi ini menambah kompleksitas krisis yang sudah memanas di Timur Tengah.



