Iran menyerang sebuah kapal tanker minyak di Selat Hormuz pada Selasa (21/7) dini hari, memaksa awak kapal meninggalkan kapal. Serangan ini terjadi di tengah gempuran militer Amerika Serikat terhadap Iran yang telah berlangsung selama 10 malam berturut-turut. Konflik kedua negara semakin memanas akibat perebutan kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut.
Serangan Bertubi-tubi dan Dampak pada Pelayaran
Meskipun AS terus melancarkan serangan udara, Iran belum melonggarkan kendalinya atas Selat Hormuz. Sebelum konflik kembali pecah, sekitar seperlima minyak mentah dan gas alam yang diperdagangkan di dunia melewati jalur tersebut. Kini, pelayaran melalui Selat Hormuz sebagian besar terhenti.
Kesepakatan sementara yang ditandatangani kedua negara pada Juni lalu, yang semula dimaksudkan untuk mengakhiri konflik, hampir tak berlaku. Seiring pertempuran semakin intensif, kedua pihak mulai menargetkan infrastruktur utama di kedua negara yang digunakan oleh jutaan orang. Di tengah konflik yang mendekati perang terbuka, Menteri Dalam Negeri Iran melakukan perjalanan ke Pakistan, salah satu pihak yang berupaya menjadi mediator.
Peringatan AS dan Target Militer
Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan baru bagi warga negaranya, menyatakan bahwa Iran dan kelompok pendukungnya mungkin akan menyerang kepentingan AS di luar negeri. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pada Selasa bahwa militernya menargetkan "pusat komando militer Iran, fasilitas maritim, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta sistem pertahanan udara." CENTCOM juga merilis rekaman serangan udara dan menegaskan, "Pasukan Amerika tetap siaga dan siap meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan yang tidak beralasan terhadap awak kapal sipil."
Harga Minyak Melonjak dan Harapan Gencatan Senjata
Eskalasi konflik mendorong kenaikan harga minyak. Harga minyak mentah Brent menembus 88 dolar AS per barel (sekitar Rp1,58 juta), sementara harga rata-rata bensin reguler di AS naik menjadi sekitar 4 dolar AS per galon (sekitar Rp72 ribu). Namun, harga minyak sedikit turun pada Selasa (21/7) setelah muncul laporan mengenai upaya mediasi.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Iran telah menerima proposal mediator untuk gencatan senjata selama 10 hari. Proposal itu bertujuan menyelamatkan kesepakatan 17 Juni dan membuka jalan bagi kesepakatan jangka panjang. Analis ING dalam catatan risetnya menyatakan, "Ada harapan untuk meredanya ketegangan antara AS dan Iran." Namun, mereka mengingatkan bahwa perbedaan besar antara Washington dan Teheran masih belum terselesaikan. Presiden AS Donald Trump juga telah mengancam pembalasan setelah sejumlah tentara Amerika tewas.
Harga minyak mentah Brent turun 78 sen (0,9%) menjadi 88,44 dolar AS per barel, sementara WTI turun 73 sen (0,9%) menjadi 82,50 dolar AS per barel.
Ancaman Blokade Houthi terhadap Arab Saudi
Di sisi lain, ancaman terhadap pasokan energi global justru meningkat. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan akan memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan larangan maritim tersebut berlaku segera. Wakil kepala kantor media Houthi, Nasruddin Amer, menyatakan Selat Bab el-Mandeb akan ditutup bagi kapal-kapal Arab Saudi sebagai balasan atas blokade terhadap Yaman.
Bab el-Mandeb merupakan jalur strategis di ujung selatan Semenanjung Arab, tempat sekitar 12% perdagangan dunia biasanya melewati selat tersebut. Seperempat perdagangan kontainer global juga melintasi selat selebar 32 kilometer itu dalam perjalanan menuju dan dari Terusan Suez. Dengan pergerakan kapal di Selat Hormuz dibatasi, Arab Saudi sebelumnya mengandalkan pelabuhan Laut Merah untuk ekspor minyak. Kini, ancaman Houthi berpotensi mempersempit jalur alternatif tersebut.
Militer Arab Saudi menegaskan akan menjaga jalur pelayaran tetap terbuka. Juru bicara militer Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, mengatakan, "Semua ancaman Houthi terhadap kapal yang melintas akan ditangani dengan cepat dan tegas." Ia menyebut ancaman tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan tindakan pembajakan maritim.
Diplomasi Lebanon-Israel dan Hizbullah
Di tengah ketegangan, Presiden Lebanon Joseph Aoun bertemu dengan Presiden AS Donald Trump pada Selasa (21/7) untuk mendorong penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan. Pertemuan ini berlangsung saat Lebanon dan Israel melanjutkan pembicaraan langsung yang jarang terjadi dengan mediasi AS. Pada 26 Juni, kedua negara mengumumkan "kerangka kesepakatan" yang mencakup rencana penarikan pasukan Israel dan pelucutan senjata Hizbullah.
Departemen Luar Negeri AS mengatakan operasi di tiga desa zona percontohan telah dimulai. Dua desa, Froun dan Srifa, telah ditempati tentara Lebanon, sementara pasukan Israel masih menguasai Zawtar al-Gharbieh. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan AS akan terus mendukung kesepakatan tersebut dan memperingatkan bahwa Lebanon "tidak akan pernah sepenuhnya damai" selama masalah Hizbullah belum diselesaikan. "Bagaimana menggantikan Hizbullah? Kalahkan dan gantikan mereka dengan pemerintahan yang cukup kuat untuk menjadi satu-satunya pihak yang memegang senjata di negara ini," kata Rubio.
Namun, upaya ini menghadapi tantangan besar. Sebagian pihak di Lebanon khawatir konfrontasi militer dengan Hizbullah dapat memicu perang saudara. Pemerintah Lebanon yang berkuasa sejak awal 2025 berkomitmen melucuti semua kelompok bersenjata non-negara, termasuk Hizbullah, namun juga mengecam invasi darat dan serangan udara Israel yang menewaskan lebih dari 4.000 orang dan menyebabkan 1,2 juta lainnya mengungsi.



