AS-Iran Saling Serang, Trump Berlakukan Blokade Laut, Harga Minyak Meroket
AS-Iran Saling Serang, Trump Berlakukan Blokade Laut

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Washington melancarkan gelombang serangan udara untuk malam ketiga berturut-turut ke sejumlah target militer Iran. Presiden Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade laut terhadap Iran, disertai pungutan 20 persen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini diambil di tengah eskalasi konflik yang melibatkan serangan balasan Iran terhadap kapal tanker dan pangkalan militer sekutu AS di Timur Tengah.

Serangan Udara AS dan Target Militer Iran

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan terbaru pada Selasa (14/7) berlangsung sekitar lima jam dan menyasar sistem pertahanan pantai, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta kemampuan maritim Iran di Bushehr, Chabahar, Jask, Konarak, Abu Musa, dan Bandar Abbas. CENTCOM menegaskan bahwa operasi tersebut dimaksudkan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz. Lebih dari 50.000 personel militer AS masih disiagakan di Timur Tengah.

Presiden Trump, dalam wawancara dengan pembawa acara radio Hugh Hewitt pada Senin (13/7), memperingatkan bahwa Iran akan "terpukul keras" pada Senin dan Selasa. Trump juga mengungkapkan bahwa fasilitas bawah tanah Iran, Pickaxe Mountain, yang berada di dekat kompleks nuklir Natanz, tengah dipantau ketat dan berpotensi menjadi sasaran serangan berikutnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Blokade Laut dan Pungutan di Selat Hormuz

Mulai Selasa (14/7), CENTCOM mengumumkan pemberlakuan kembali blokade laut terhadap Iran. Kebijakan ini berlaku bagi kapal yang menuju maupun meninggalkan pelabuhan Iran. Trump juga menyatakan bahwa kapal yang melintasi Selat Hormuz akan dikenai pungutan sebesar 20 persen untuk menutup biaya pengamanan jalur pelayaran. Namun, perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd mengkritik rencana tersebut, menilai pengenaan biaya di perairan internasional merupakan langkah yang "secara fundamental keliru."

Serangan Balasan Iran: Tanker dan Pangkalan Sekutu AS

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah melumpuhkan dua supertanker di Selat Hormuz karena dianggap mengabaikan peringatan dan melintasi jalur yang disebut telah dipasangi ranjau. Menurut Uni Emirat Arab (UEA), kedua kapal tanker, Mombasa dan Al Bahiyah, diserang oleh rudal jelajah Iran saat berlayar di perairan Oman. Serangan tersebut menewaskan seorang awak kapal asal India dan melukai delapan orang lainnya. Kedua kapal kemudian terbakar sebelum api berhasil dipadamkan. India memanggil wakil Duta Besar Iran menyusul tewasnya warga negaranya dalam insiden tersebut.

IRGC juga meluncurkan rudal dan drone ke Bahrain dengan sasaran gudang persenjataan, pusat komunikasi satelit, serta kompleks tempat tinggal personel militer AS. Bahrain, yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS, menyatakan berhasil mencegat sejumlah serangan udara Iran dan menuduh Teheran menyerang kawasan sipil. Sementara itu, Yordania mengaku berhasil mencegat 4 rudal yang ditembakkan Iran ke arah pangkalan militer AS di wilayahnya. Iran juga menyerukan kepada masyarakat Yordania untuk membongkar pangkalan-pangkalan militer Amerika di negara tersebut.

Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengaku meluncurkan rudal dan drone ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi sebagai balasan atas serangan udara terhadap Bandara Sanaa.

Dampak Ekonomi: Harga Minyak Meroket

Meningkatnya konfrontasi antara Washington dan Teheran langsung memicu gejolak di pasar energi global. Harga minyak Brent naik lebih dari 2 persen hingga mendekati 85 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah mendekati 80 dolar AS (sekitar Rp1,4 juta) per barel. Pasar bereaksi terhadap meningkatnya risiko gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, jalur yang menjadi salah satu titik transit minyak terpenting di dunia.

Meski demikian, para analis mencatat bahwa Selat Hormuz masih tetap terbuka untuk pelayaran internasional. Namun, meningkatnya aksi militer, serangan terhadap kapal tanker, serta kebijakan blokade AS dinilai menambah ketidakpastian terhadap keamanan perdagangan global dan stabilitas pasokan energi. Di dalam Iran sendiri, situasi yang terus berubah antara operasi militer dan upaya diplomasi disebut memicu ketidakpastian yang berkepanjangan bagi masyarakat. Warga menghadapi tekanan ekonomi, kekhawatiran akan kekerasan baru, serta ketidakjelasan mengenai arah konflik yang terus berkembang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga