Laporan Global Liveability Index 2026 yang dirilis oleh Economist Intelligence Unit (EIU) kembali menempatkan Damaskus, Suriah, sebagai kota paling tidak layak huni di dunia. Indeks ini menilai 173 kota berdasarkan lima aspek utama: stabilitas, layanan kesehatan, budaya dan lingkungan, pendidikan, serta infrastruktur, dengan skor 1–100.
Kota-kota dengan Skor Terendah
Damaskus hanya memperoleh skor 30,7, menjadikannya kota dengan kualitas hidup terburuk. Konflik berkepanjangan dan kerusakan infrastruktur menjadi penyebab utama. Posisi kedua ditempati oleh Tripoli, Libya, dengan skor 34,2, disusul Lagos, Nigeria, di peringkat ketiga dengan skor 36,1.
Kota-kota lain yang masuk dalam daftar 10 terendah adalah Algiers (Aljazair), Karachi (Pakistan), Port Moresby (Papua Nugini), Harare (Zimbabwe), Douala (Kamerun), Dhaka (Bangladesh), dan Caracas (Venezuela).
Faktor Penyebab Ketidaklayakan
Menurut EIU, faktor utama yang membuat kota-kota ini tidak layak huni adalah konflik bersenjata, ketidakstabilan politik, tingkat kejahatan tinggi, dan infrastruktur yang buruk. Misalnya, Damaskus dan Tripoli masih dilanda perang saudara, sementara Lagos dan Dhaka menghadapi masalah kemacetan parah dan sanitasi yang minim.
"Konflik dan ketidakstabilan politik terus menjadi penghalang utama bagi kelayakhunian di banyak kota," ujar seorang analis EIU dalam pernyataannya.
Perbandingan dengan Kota Terlayak
Di sisi lain, kota paling layak huni versi EIU 2026 adalah Kopenhagen, Denmark, dengan skor 99,2. Disusul oleh Melbourne dan Sydney di Australia. Kota-kota ini unggul dalam stabilitas, layanan kesehatan, dan infrastruktur.
Indeks EIU menjadi acuan bagi para ekspatriat dan investor dalam menilai kualitas hidup di berbagai kota di dunia.



