Peringatan Hari Kartini, PKB Soroti Ancaman Dunia Digital Bagi Perempuan
PKB Soroti Ancaman Dunia Digital Bagi Perempuan di Hari Kartini

Peringatan Hari Kartini, PKB Soroti Ancaman Dunia Digital Bagi Perempuan

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, menyatakan partainya memperingati Hari Kartini dengan menyelenggarakan diskusi dan deklarasi bertajuk "Sobat Digital Bukan Korban Digital". Tema ini dirasa sangat relevan bagi kelompok perempuan, mengingat banyak dari mereka yang kerap menjadi korban kejahatan di dunia maya.

"Kartini terus hidup dan membawa kemajuan serta kesejahteraan bagi bangsa. Diskusi mengenai dunia digital saat ini menjadi sangat penting karena spektrum persoalannya yang semakin luas, termasuk munculnya bentuk-bentuk kejahatan digital terbaru," kata Cak Imin dalam pidato pembukaannya di Markas DPP PKB, Selasa (21/4/2026).

Batas Tipis Antara Sobat dan Korban Digital

Cak Imin menambahkan, bahwa batas antara "sobat digital" dan "korban digital" sangat tipis. Banyak orang merasa telah menggunakan teknologi dengan bijak, namun tanpa disadari justru menjadi korban. "Ini seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan," ujarnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dia pun menitipkan tiga langkah strategis agar masyarakat semakin sadar akan potensi bahaya dunia digital:

  1. Penguatan regulasi: Menurutnya, sejumlah negara telah menerapkan aturan ketat dalam penggunaan media sosial, termasuk pembatasan bagi anak-anak. "Indonesia perlu menuju arah tersebut dengan tetap mempertimbangkan konteks sosial nasional," pesan dia.
  2. Pembangunan ekosistem digital yang produktif: Ia mencontohkan Korea Selatan yang berhasil mengintegrasikan industri kreatif, budaya, dan UMKM dalam ekosistem digital yang kuat. "Kita harus membangun infrastruktur digital yang tidak hanya konsumtif, tetapi juga produktif dan berdaya saing," jelasnya.
  3. Penguatan nilai-nilai agama, budaya, dan etika oleh perempuan: "Kerja keras harus diimbangi dengan kerja cerdas, serta fondasi nilai yang kuat agar tidak tergerus arus digital," tutup Cak Imin.

Semangat Kartini di Era Digital

Sementara itu, Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa, Nihayatul Wafiroh (Ninik), menegaskan, semangat Kartini tetap relevan di era digital. Ia menyebut, jika dahulu Kartini berjuang melawan keterbatasan melalui tulisan, kini perempuan menghadapi tantangan baru di ruang digital yang tanpa batas.

"Transformasi digital membuka peluang besar bagi kemandirian ekonomi dan ekspresi perempuan. Namun di sisi lain, ruang digital juga bisa menjadi hutan belantara yang penuh ancaman," kata Ninik sebagai pengampu acara tersebut.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI itu juga menyoroti, implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) masih belum optimal, terutama dalam penanganan kasus di ruang digital yang membutuhkan sinergi lintas sektor.

"Kita tidak boleh diam. Kartini mengajarkan untuk melawan ketidakadilan. Ruang digital harus menjadi ruang yang aman bagi perempuan," tegasnya.

Ninik menekankan, Perempuan Bangsa harus menjadi garda terdepan dalam melawan kekerasan digital, dengan menjangkau seluruh lapisan masyarakat hingga ke pelosok desa.

"Untuk menciptakan ruang digital yang beradab dan memanusiakan, kita harus hadir dengan literasi, keberanian, dan solidaritas. Habis gelap terbitlah terang, mari kita terangi ruang digital kita bersama," dia menandasi.

Deklarasi Sobat Digital Bukan Korban Digital

Usai diskusi, Perempuan Bangsa lantas melakukan deklarasi "Sobat Digital Bukan Korban Digital". Berikut poin-poin deklarasinya:

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga
  • Menolak semua bentuk kekerasan terhadap perempuan di ruang digital yang merusak rasa aman dan martabat.
  • Mendorong Negara mengambil peran aktif kampanye literasi digital, agar perempuan memiliki pemahaman yang kuat tentang keamanan, perlindungan data pribadi, dan etika dalam bermedia.
  • Berpihak pada korban dan mendorong perempuan untuk berani bersuara, melapor, dan melawan tanpa takut.
  • Mendesak Negara dan platform digital untuk bertindak tegas, melindungi korban, dan menindak pelaku.
  • Mengajak seluruh masyarakat untuk bersama menciptakan ruang digital yang aman, adil, dan saling melindungi.

Sebagai informasi, momentum Hari Kartini diperingati PKB lewat diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu Nadia Harsya, Kalis Mardiasih, serta Hikmah Bafaqih. Sejumlah elite Perempuan Bangsa juga nampak hadir, antara lain Ketua Dewan Pembina DPP Perempuan Bangsa Rustini Muhaimin, Bendahara Umum Perempuan Bangsa Ratna Juwita Sari, serta puluhan kader.