PDIP Tanggapi Pernyataan Prabowo Soal Penertiban Pengamat: Ini Risiko Raya
PDIP Tanggapi Prabowo Soal Penertiban Pengamat: Risiko Raya

PDIP Tanggapi Pernyataan Prabowo Soal Penertiban Pengamat: Ini Risiko Raya

Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira menanggapi sikap Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan ada sejumlah pengamat yang perlu ditertibkan. Menurut Andreas, hal ini menjadi risiko yang harus dialami rakyat usai pemilihan presiden atau Pilpres.

Risiko Pasca Pemilihan

"Ini risiko yang harus dialami rakyat yang telah memilih. Sehingga Pak Prabowo, sebagai presiden mungkin merasa bisa melakukan apa saja yang tidak sejalan dengan pikirannya, sehingga perlu menertibkan," kata Andreas kepada wartawan, Selasa (17/3/2026).

Andreas menegaskan bahwa PDIP justru senang dan berharap pemerintah berhasil menjalankan program-programnya. Namun, Prabowo bebas untuk menilai pihak mana yang tidak menyukai pemerintah, sesuai dengan pemahamannya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Kalau PDI Perjuangan suka kalau pemerintahan ini berhasil sehingga lapangan kerja tersedia, kebutuhan sandang pangan rakyat tersedia dan daya beli masyarakat terjangkau, pendidikan bagi generasi muda terjamin," ujarnya. "Kalau ada yang menurut presiden tidak suka, ya terserah presiden," sambungnya.

Pernyataan Kontroversial Prabowo

Presiden Prabowo Subianto menyentil pengamat-pengamat yang kerap mengkritik dan tak menyukai keberhasilan pemerintah. Prabowo menilai pengamat-pengamat tersebut memiliki berbagai motivasi menyerang pemerintah, seperti merasa dirugikan karena kebijakan yang dibuat.

"Ya ini pengamat-pengamat ada beberapa macam. Menurut saya ada pengamat-pengamat yang tidak suka pemerintahnya sendiri berhasil karena berbagai motivasi. Tapi menurut saya, sikap mereka itu sikap yang sempit, bukan sikap patriotik," kata Prabowo saat memimpin sidang kabinet paripurna di Istana Negara Jakarta, Jumat (13/3/2026).

"Mungkin karena merasa kalah, tidak punya kekuasaan, atau ada pihak yang hilang rejeki, terutama maling-maling, koruptor-koruptor ya kan, ya merasa rugi dong dengan pemerintah kita," sambungnya.

Komitmen Penertiban

Dia menegaskan akan menertibkan pengamat-pengamat tersebut. Prabowo mengaku memiliki data-data siapa saja pengamat yang kerap membuat narasi mencemaskan masyarakat dan sosok yang membiayai mereka.

"Ya saya juga punya data-data intelijen ya kan. Kalau dulu kan saya di luar pemerintah, sekarang saya presidennya, jadi saya tiap hari dapat laporan intel ya kan. Jadi saya mengertilah, saya sudah tahu siapa yang biayai-biayai. Pada saatnya lah kita tertibkan itu semua," jelasnya.

Pendekatan Berbasis Bukti

Kendati begitu, Prabowo masih melakukan cara-cara yang baik dalam menertibkan pihak-pihak tersebut. Dia juga meyakini masyarakat dapat melihat bukti kerja keras pemerintah.

"Tapi sekarang kita masih berusaha dengan cara-cara yang meyakinkan. Saya percaya dengan evidence based. Dengan bukti, rakyat kita akan mengerti. Jadi pengamat-pengamat, menurut saya ada yang motivasinya ingin menimbulkan kecemasan rakyat. Saya juga tidak mengerti pemikirannya seperti apa karena kita satu negara kan satu kapal," tutur Prabowo.

Seruan Persatuan Nasional

Prabowo tak mempermasalahkan perbedaan pendapat maupun persaingan politik. Namun, dia menilai seharusnya masyarakat Indonesia kompak setelah persaingan politik dan pemilihan berakhir.

"Harusnya perbedaan pendapat ya tidak masalah, persaingan politik ya persaingan politik. Tiap 5 tahun di pileg, pilkada, di pilpres, tidak ada masalah," ucap dia. "Tapi harusnya negara ini kalau sudah selesai pertandingan-pertandingan itu seharusnya kita bersatu kompak. Kapal yang namanya RI ini mengarungi lautan yang penuh karang. Tapi saya juga terima kasih," sambung Prabowo.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga