Korban Tewas Serangan Israel di Lebanon Capai 687 Orang, Termasuk 98 Anak-anak
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa sedikitnya 687 orang tewas akibat rentetan serangan Israel yang dilancarkan sejak awal Maret 2026. Data yang dirilis pada Jumat (13/3/2026) ini mencakup 98 anak-anak, 62 wanita, dan 18 paramedis di antara korban meninggal.
Luka-luka Mencapai 1.774 Orang
Selain korban tewas, sebanyak 1.774 orang lainnya mengalami luka-luka akibat gempuran Israel. Menurut laporan resmi, korban luka tersebut terdiri dari 304 anak-anak, 328 wanita, dan 45 paramedis. Situasi ini menggambarkan dampak humaniter yang parah dari eskalasi konflik terkini.
Eskalasi Konflik di Perbatasan
Ketegangan di perbatasan Israel dan Lebanon kembali memanas sejak 2 Maret, setelah Hizbullah melancarkan serangan roket ke wilayah Israel. Aksi ini dilakukan sebagai balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari.
Militer Israel dan Hizbullah kemudian terlibat dalam aksi saling serang yang intens. Hizbullah menargetkan situs-situs militer Israel dengan roket, sementara Israel membalas dengan gempuran udara dan darat di area-area yang dianggap sebagai benteng Hizbullah.
Operasi Militer Israel di Lebanon
Israel telah melancarkan serangan udara terhadap area pinggiran selatan Beirut serta wilayah selatan dan timur Lebanon. Bahkan sejak 3 Maret, Tel Aviv memulai serangan darat secara terbatas di wilayah Lebanon bagian selatan, memperluas cakupan operasi militernya.
Konflik ini merupakan bagian dari dinamika regional yang lebih luas, mengingat Hizbullah merupakan sekutu Iran. Eskalasi terjadi setelah serangan gabungan skala besar AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, yang memicu reaksi berantai di kawasan.
Laporan korban dari Kementerian Kesehatan Lebanon ini menggarisbawahi biaya kemanusiaan yang tinggi dari pertempuran sengit yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Situasi terus dipantau secara ketat oleh komunitas internasional, dengan kekhawatiran akan potensi eskalasi lebih lanjut.
