Isu Pemotongan Gaji Menteri Demi Efisiensi, Seskab Teddy: Masih Wacana
Pemerintahan Presiden Prabowo tengah menggodok berbagai kebijakan efisiensi menyusul dampak konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi, termasuk pasokan bahan bakar minyak (BBM). Di tengah upaya ini, muncul isu soal pemotongan gaji menteri di Kabinet Merah Putih sebagai salah satu langkah penghematan.
Selain itu, pemerintah juga mengusulkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) satu hari dalam sepekan untuk mengurangi biaya operasional. Merespons hal tersebut, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memberikan klarifikasi kepada awak media.
Tanggapan Seskab Teddy
"Tanya yang menyampaikan kemarin, siapa itu?" jawab Teddy di Kompleks Istana Jakarta, Selasa (7/4/2026). Ia menambahkan bahwa wacana pemotongan gaji menteri tersebut masih belum mencapai hasil final. Istana memastikan akan melakukan rapat lanjutan untuk membahas lebih lanjut perihal terkait.
"Jadi intinya konsep-konsep itu akan dirapatkan dalam beberapa hari ini," tambah dia. Teddy menekankan bahwa jika sudah ada kepastian, maka Istana akan memutuskan konsep apa yang akan digunakan untuk menyiasati kebijakan efisiensi ini.
Menunggu Keputusan Final
"Nanti kita lihat. Belum ada keputusan apapun," tandas Teddy. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa berbagai opsi efisiensi, termasuk pemotongan gaji menteri, masih dalam tahap pertimbangan dan diskusi intensif di lingkungan pemerintah.
Kebijakan efisiensi ini diusulkan sebagai respons terhadap tekanan ekonomi global akibat konflik Timur Tengah, yang berdampak pada kenaikan harga energi dan kebutuhan fiskal negara. Pemerintah berupaya mencari solusi yang tepat tanpa mengorbankan stabilitas dan kinerja kabinet.
Dengan demikian, publik diharapkan menunggu keputusan resmi dari pemerintah sebelum menarik kesimpulan terkait isu pemotongan gaji menteri ini. Proses perumusan kebijakan masih berlangsung dan akan diumumkan secara terbuka setelah mencapai kesepakatan final.



