Hasto Kritik Hilangnya Spirit KAA, Indonesia Dinilai Gamang Perjuangkan Bangsa Tertindas
Hasto Kritik Hilangnya Spirit KAA, Indonesia Gamang

Hasto Nilai Indonesia Kehilangan Spirit Konferensi Asia Afrika: Jadi Gamang Perjuangkan Bangsa Tertindas

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyampaikan kritik tajam terhadap arah politik luar negeri Indonesia dalam peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika. Acara ini digelar oleh DPP PDIP di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 18 April 2026.

Keterputusan Sejarah dan Geopolitik

Menurut Hasto, Indonesia mengalami kehilangan arah dalam menghadapi dinamika geopolitik global. Hal ini disebabkan oleh terputusnya pemahaman terhadap spirit Konferensi Asia Afrika 1955, yang merupakan tonggak penting dalam sejarah bangsa. "Di sinilah kita mengalami keterputusan sejarah termasuk spirit Konferensi Asia Afrika sehingga rasanya di dalam menghadapi pertarungan geopolitik saat ini kita menjadi bangsa yang begitu gamang di dalam politik luar negeri bebas aktif kita di dalam memperjuangkan bangsa-bangsa tertindas," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa KAA menegaskan posisi Indonesia sebagai pelopor gerakan anti-kolonialisme dan pembela negara-negara tertindas, sebagaimana digagas oleh Soekarno. Namun, nilai-nilai tersebut kini tidak lagi menjadi arus utama dalam praktik kebijakan, sehingga Indonesia kehilangan pijakan strategis.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pentingnya Kembali ke Warisan Sejarah

Hasto menekankan pentingnya kembali pada warisan sejarah dan pemikiran geopolitik awal. "Tetapi sebagai bagian dari rediscovery of our own history tadi, kita harus kembali memahami bagaimana Republik ini dibangun dengan narasi pembebasan," jelasnya. Ia juga menyoroti dokumen historis KAA, seperti komunike Bandung, yang memuat prinsip kerja sama politik, ekonomi, dan kebudayaan antarnegara berkembang.

Dalam komunike tersebut, telah diatur kerja sama ekonomi, pertukaran tenaga ahli, hingga upaya membangun kemandirian bangsa sebagai respons terhadap warisan kolonialisme. Hasto berpendapat bahwa pemahaman kembali terhadap dokumen ini sangat krusial untuk mengembalikan arah geopolitik Indonesia.

Aspek Kebudayaan dalam Gerakan Pembebasan

Selain aspek politik dan ekonomi, Hasto juga menilai aspek kebudayaan sebagai bagian penting dari gerakan pembebasan yang selama ini kurang mendapat perhatian. "Upaya untuk membebaskan manusia dari berbagai penjajahan itu adalah suatu gerak kebudayaan. Inilah yang selama ini kita kehilangan spirit," ucapnya.

Dengan demikian, ia mendorong agar Indonesia tidak hanya fokus pada dimensi politik, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai kebudayaan yang mendasari perjuangan kemerdekaan dan solidaritas global.

Peringatan 71 tahun KAA ini menjadi momentum refleksi bagi Indonesia untuk mengevaluasi kembali peranannya di panggung internasional. Hasto berharap bangsa ini dapat kembali menjadi mercusuar keadilan dunia, sebagaimana semangat awal Konferensi Asia Afrika.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga