Bamsoet Apresiasi Respons Cepat TNI-Polri Tangani Kasus Penyiksaan Andrie Yunus
Anggota DPR RI Bambang Soesatyo, yang akrab disapa Bamsoet, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada TNI dan Polri atas kesigapan mereka dalam mengungkap, mengidentifikasi, dan menangkap pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, wakil koordinator KontraS. Respons cepat dari kedua institusi ini dinilai sangat bermakna dalam upaya merawat kemurnian wajah demokrasi dan citra pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto.
Reaksi Cepat TNI-Polri Menjelaskan Posisi Negara
Dalam keterangannya pada Jumat (20/3/2026), Bamsoet menegaskan bahwa reaksi cepat TNI-Polri dalam mengungkap dan menangkap pelaku teror serta penganiayaan terhadap aktivis KontraS ini menjadi penjelasan yang sangat gamblang. Hal ini menunjukkan bahwa unsur negara atau pemerintah bukanlah aktor intelektual di balik aksi teror dan penganiayaan tersebut. Bahkan, Presiden Prabowo telah mengutuk keras aksi teror ini dan mendesak pihak berwajib untuk segera mengusut tuntas kasus ini hingga ke dalangnya.
Kasus ini bermula ketika Andrie Yunus diteror dan dianiaya dengan siraman air keras ke tubuhnya, usai tampil dalam sebuah podcast bertema militerisme pada Kamis (12/3) di kawasan Jakarta Pusat. Insiden ini menuai kecaman dari berbagai kalangan masyarakat.
Proses Pengungkapan dan Penangkapan Pelaku
Polri dengan sigap menganalisis rekaman dari 86 titik CCTV, yang berhasil mengidentifikasi ciri-ciri empat pelaku. Keempatnya kemudian ditangkap pada Rabu (18/3). Segera setelah penangkapan, Mabes TNI mengonfirmasi bahwa pelaku merupakan oknum personel TNI, terdiri dari tiga perwira dan satu bintara.
Bamsoet menekankan bahwa respons cepat TNI-Polri dalam mengungkap kasus ini menunjukkan ketaatan kedua institusi dalam melindungi serta merawat citra negara dan pemerintah di mata masyarakat serta komunitas internasional. Dengan respons seperti itu, TNI dan Polri menjelaskan bahwa negara dan pemerintah tidak membungkam kritik dari publik.
Pentingnya Pengusutan Motif dan Aktor Intelektual
Bamsoet menegaskan bahwa motif apa pun yang melatarbelakangi aksi keempat pelaku harus terus diselidiki, baik oleh internal TNI maupun melalui proses hukum. Sebab, ketika terjadi aksi teror, intimidasi, dan penganiayaan terhadap individu atau kelompok masyarakat yang menyuarakan kritik kepada pemerintah, justru pemerintah dan alat-alat negara akan sangat dirugikan.
"Kalau pemerintah dan institusi negara pasif menyikapi aksi teror seperti itu, akan muncul anggapan atau asumsi di ruang publik bahwa oknum penguasa berada di balik tindakan tidak terpuji itu. Ini jelas akan merusak nama baik pemerintah ataupun institusi negara," jelas Ketua DPR RI ke-20 tersebut.
Kasus sebagai Contoh Kerja Kotor Oknum
Bamsoet menambahkan bahwa TNI-Polri tidak cukup hanya menangkap dan menghukum pelaku. Pengusutan hendaknya berlanjut hingga aspek motif dan aktor intelektual di belakang keempat pelaku itu. Kasus ini menjadi contoh nyata tentang kerja kotor oknum dalam institusi negara yang berpotensi mencoreng citra pemerintah.
"Harap diingat bahwa teror dan intimidasi terhadap individu maupun kelompok masyarakat yang menyuarakan kritik kepada pemerintah sudah beberapa kali terjadi belakangan ini. Kalau tidak ditangani dengan tindakan tegas, kecenderungan itu akan merusak kredibilitas negara dan kredibilitas pemerintahan Presiden Prabowo," pungkasnya.
Dengan demikian, apresiasi Bamsoet terhadap TNI dan Polri menegaskan komitmen untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam penegakan hukum, sekaligus melindungi hak-hak warga negara dalam menyampaikan kritik.



