Elite PDIP vs AHY Soal Polemik 'Hasut' Masih Berlanjut
Elite PDIP vs AHY Soal Polemik 'Hasut' Masih Berlanjut

Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus dan kubu Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) masih saling balas argumen terkait polemik pernyataan 'hasut'. Deddy awalnya melontarkan kritik tajam kepada AHY yang meminta PDIP tetap memberikan kritik konstruktif meski di luar pemerintahan. Deddy meminta AHY tidak menghasut dan menghormati sikap politik PDIP.

Deddy: Tudingan Dalang Demo Terbantahkan

Deddy menyinggung tudingan bahwa PDIP menjadi dalang demonstrasi. "Kan dulu 2025 juga kita dituding sebagai dalang demo. Sekarang juga dituding jadi dalang demo. Nah, tudingan-tudingan ini kan terbantahkan sendiri. Tahun 2025 tidak ada satu pun orang PDI Perjuangan atau terkait dengan PDI Perjuangan yang diproses hukum oleh aparat, ya. Jadi, dengan sendirinya kan terbantahkan itu oleh fakta," kata Deddy di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6).

Ia mengungkap hal yang sama terjadi pada 2026, di mana kader PDIP Andi Widjajanto dituduh sebagai dalang demo. "Nah, sekarang sama saja. Dituduh-tuduh Andi Widjajanto. Bahkan seorang Menko seperti AHY ngomong, ya jangan menghasut," ujarnya. "Ini lagi-lagi membuktikan bahwa memang berada di luar pemerintahan itu selalu mudah menjadi kambing hitam, ya," sambungnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Deddy Nilai Tuduhan Tanpa Dasar Hukum

Deddy menilai tudingan terhadap Andi Widjajanto tidak memiliki dasar hukum dan hanya berdasarkan asumsi. Menurutnya, pihak yang mempertanyakan posisi PDIP didasari ketidakpuasan di lingkungan pemerintah. "Saya melihat dalam kasus kenapa partai-partai lain ribut soal posisi PDI Perjuangan itu, ini kemungkinan besar ketidakpuasan di kalangan mereka sendiri terhadap posisi mereka di dalam pemerintahan, atau mungkin mereka pengin dapat perhatian lebih dari presiden, saya nggak ngerti," ujarnya. "Tetapi ini adalah bukti bahwa mereka itu ya asal bunyi saja kalau menurut saya, tanpa fakta-fakta yang mendukung," sambungnya.

Elite Demokrat Serang Balik Deddy

Sekretaris Badan Riset dan Inovasi Strategis (BRAINS) Partai Demokrat Yan Harahap menyerang balik Deddy. Yan memandang pernyataan AHY terlalu benar untuk dibantah oleh PDIP. "Kalau ajakan untuk mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan partai saja dianggap hasutan, maka jangan-jangan yang terusik bukan isi pernyataannya, melainkan karena pesannya terlalu benar untuk dibantah," kata Yan saat dihubungi, Kamis (25/6/2026).

Yan mengaku heran terhadap Deddy yang menilai pernyataan AHY sebagai hasutan. Ia mencurigai kemampuan Deddy dalam mencerna pernyataan AHY. "Jangan-jangan ini malah bentuk ketidakmampuannya dalam mencerna narasi yang disampaikan Mas AHY," ucap Yan. Yan mendengar langsung pernyataan AHY yang dimaksud Deddy. Menurutnya, pernyataan AHY jelas bahwa tugas partai politik di dalam koalisi pemerintah adalah mendukung dan menyukseskan program pemerintah. Sementara partai di luar pemerintahan bertugas menyampaikan kritik konstruktif dan solusi. "Itu adalah prinsip demokrasi yang sehat," imbuh Yan.

Yan menambahkan, AHY juga menegaskan kepentingan nasional harus di atas kepentingan partisan, serta mengingatkan agar tidak memecah belah bangsa dan tetap membuka ruang evaluasi. "Sulit mencari kalimat yang lebih moderat dan lebih menyejukkan dari pada itu, ya kan?" tutur Yan. Ia mempertanyakan cara Deddy memahami pernyataan AHY yang justru mengajak mengedepankan kepentingan bangsa. "Maka yang perlu dipertanyakan adalah cara memahami pernyataan tersebut, bukan isi pernyataannya," tuturnya.

Deddy Tetap Nilai AHY Menghasut

Deddy Sitorus membalas pernyataan elite Demokrat. Deddy menegaskan tidak salah tafsir atas pernyataan AHY. "Tidak ada salah tangkap, AHY jelas-jelas bilang boleh kritik asal konstruktif tapi tidak boleh memecah belah bangsa dan mendiskreditkan," kata Deddy kepada wartawan, Kamis (25/6/2026). Deddy menilai pernyataan tersebut merupakan insinuasi terhadap PDIP. "Secara tidak langsung, dengan logika saja, maka kalimat ini jelas memberikan insinuasi dan bisa diinterpretasikan bahwa selama ini kritik yang disampaikan PDIP itu tidak konstruktif dan cenderung memecah belah dan mendiskreditkan. Nah, itulah yang saya anggap sebagai hasutan. Cukup jelas, kan?" ujarnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Deddy juga menolak pandangan bahwa kritik kepada pemerintah harus selalu konstruktif dan menawarkan solusi. Menurut dia, konsep tersebut mengingatkan pada pola berpikir di era Orde Baru. "AHY harus tahu juga, tidak ada yang namanya kritik konstruktif dan memberikan solusi itu sangat berbau Orba. Kritik adalah kritik, kalau benar silakan terima, kalau tidak ya abaikan saja," tuturnya. "Bukan tugas rakyat mencari solusi tapi tugas pemerintah/eksekutif. Enak banget dikasih kekuasaan, anggaran, birokrasi tapi masih minta solusi. Kalau kritik rakyat tidak bisa diberikan solusi, ya mundur saja!" imbuh dia.