Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) mengusulkan skema kenaikan tarif Transjakarta menjadi Rp 5.000, sementara untuk Transjabodetabek diusulkan naik menjadi Rp 10.000. Sejumlah warga menilai usulan penyesuaian tarif tersebut masih dalam batas wajar.
Warga Tak Keberatan dengan Kenaikan Tarif
Salah seorang warga bernama Yona tidak keberatan bila tarif Transjakarta dan Transjabodetabek mengalami kenaikan. Namun, warga Depok yang sehari-hari bekerja di Jakarta Barat itu meminta agar kenaikan tarif tersebut diimbangi dengan peningkatan fasilitas.
"Menurut saya, kalau naik jadi Rp 5.000 untuk Transjakarta oke-lah ya, tidak terlalu memberatkan. Kalau Transjabodetabek naik jadi Rp 10.000 juga sudah oke. Karena jaraknya yang jauh-jauh, cuma bayar Rp 10.000 kan enak lah ya. Cuma dengan kenaikan harga ini, harus diimbangi juga dengan jumlah armada. Kayak saya di Sawangan, itu armadanya belum terlalu banyak," kata Yona kepada detikcom, Kamis (9/7/2026).
Yona sehari-hari menggunakan Transjabodetabek rute D41 Sawangan-Lebak Bulus untuk pergi bekerja. Ia mengeluhkan layanan rute tersebut yang kerap tidak sampai ke pemberhentian akhir saat sore hari. "Kalau jam 6 sore itu, dari Lebak Bulus ke Sawangan tidak sampai terminal atau pemberhentian terakhir, hanya sampai pintu Tol Sawangan. Bus balik lagi ke Lebak Bulus. Karena kalau sampai ke terminal, Jalan Sawangan yang macet parah bikin bus lama sampai ke Lebak Bulus lagi," ujarnya.
Fasilitas Halte Perlu Ditingkatkan
Selain persoalan rute, Yona menilai fasilitas menunggu di halte saat ini masih kurang memadai, mulai dari minimnya tempat duduk hingga ketersediaan tempat sampah. "Itu satu. Yang kedua, di setiap halte tempat duduk masih kurang banyak. Tempat duduk bagi prioritas saja tidak cukup, apalagi penumpang umum. Tong sampah di Halte Lebak Bulus juga cuma satu. Semoga ditambah lagi biar kalau buang sampah itu nggak sembarangan," ucapnya.
Jika tarif resmi dinaikkan, ia berharap halte di Terminal Sawangan segera dibangun untuk kenyamanan penumpang. "Halte di Terminal Sawangan segera dibuat untuk memudahkan pas nunggu bus. Kenaikan tarif harus diimbangi dengan fasilitas," tuturnya.
Tarif Masih Ideal Dibanding Ojol
Senada dengan Yona, warga lain yang tinggal di Jakarta bernama Riris juga menilai usulan kenaikan tarif Transjakarta dan Transjabodetabek tersebut masih ideal. Sebab, tarif tersebut dinilai masih jauh lebih murah dibandingkan moda transportasi berbasis daring (online).
"Sebenarnya masih sangat ideal, apa lagi di Jakarta. Jatuhnya itu masih jadi transportasi umum yang paling murah dibandingkan ojol atau taksi," kata Riris. "Memang sedikit lebih mahal dari KRL, tapi cakupan TJ (Transjakarta) masih lebih banyak dari KRL. Jadi kayak lebih bisa memilih ke tujuan mana saja, dibandingkan KRL yang tujuannya nggak banyak dan sudah saklek di situ-situ saja," lanjutnya.
Meski memaklumi rencana kenaikan tersebut, Riris tetap berharap ada perbaikan nyata pada fasilitas dan pelayanan di lapangan. Terlebih, pada jam-jam sibuk (rush hour), penumpukan penumpang masih sering terjadi di halte-halte kecil.
"Masih sangat bisa dipahami, dengan harapan fasilitas juga harus lebih ditingkatkan. Mungkin dengan penambahan armada atau fasilitas lain di halte atau di tempat menunggu. Kalau dilihat di halte TJ non-BRT itu, saat rush hour pasti antrinya panjang banget. Dan ruang yang tercakup di halte kan kecil kalau yang non-BRT, jadi dia pasti antrinya sampai ke trotoar," papar Riris.
Riris yang mobilitas bekerjanya menggunakan Transjakarta menyarankan agar Pemprov DKI Jakarta memperluas area halte yang memiliki volume penumpang tinggi sebelum memberlakukan tarif baru. "Mungkin bisa diperluas halte-halte itu biar bisa mencakup banyak pekerja yang setiap hari pakai TJ. Tentu sebelum harga dinaikkan, harus dipastikan fasilitasnya biar seimbang antara fasilitas dengan harga, walaupun sebenarnya sudah disubsidi oleh Pemprov DKI," pungkasnya.
Usulan DTKJ
Sebelumnya, Ketua DTKJ Sugihardjo mengusulkan kenaikan tarif integrasi Transjakarta dan Transjabodetabek. Tarif Transjakarta diusulkan naik jadi Rp 5.000, sedangkan Transjabodetabek Rp 10 ribu.
"Yang luar kota (Transjabodetabek) itu jadinya Rp 10 ribu. Apalagi nanti kalau misalnya kita mendorong sebetulnya integrasinya bukan sesama moda transportasi jalan, tapi dengan LRT dan MRT. Kalau Transjabodetabeknya digabungkan lagi ke situ, berarti kan sudah integrasi semua moda," ujar Sugihardjo kepada wartawan di Balai Kota Jakarta, Jumat (3/7).
Dia mengatakan, meski tarif naik, Transjabodetabek akan terintegrasi dengan Transjakarta, dengan satu kali bayar. "Nah, kalau Rp 10 ribu kan kalau dibilang naik itu patokannya apa? Kalau dari selama ini Rp 3.500 naiknya kan jadi Rp 10 ribu kan naik kan. Tapi juga kalau dilihat dari sekarang dia bisa menggunakan Transjakarta," ucapnya.



