Timwas DPR: Petugas Kesehatan dan Fasilitas Medis Haji Belum Ideal
Timwas DPR: Petugas Kesehatan dan Fasilitas Medis Haji Belum Ideal

Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026, Netty Prasetiyani Aher, mengingatkan bahwa jumlah petugas kesehatan dan fasilitas medis untuk melayani jemaah haji masih belum ideal. Hal ini disampaikan setelah melakukan pemantauan di Arab Saudi, di mana ia menemukan sejumlah persoalan mendasar, mulai dari keterbatasan tenaga kesehatan, tingginya jumlah jemaah risiko tinggi, hingga armada ambulans yang sudah tidak layak operasi.

Keterbatasan Tenaga Kesehatan

Netty menyatakan bahwa total petugas kesehatan haji saat ini tercatat sebanyak 1.249 orang, terdiri dari 1.050 Tenaga Kesehatan Haji Kloter (TKHK) dan 199 petugas kesehatan non-kloter. Mereka harus menangani lebih dari 221 ribu jemaah Indonesia yang tersebar di berbagai sektor pemondokan. Menurut Netty, rasio tersebut belum memadai mengingat mayoritas jemaah memiliki kerentanan kesehatan, seperti usia lanjut dan penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, gangguan jantung, hingga kanker.

"Jumlah 199 PPIH bidang kesehatan dan 1.050 TKHK bukan rasio yang ideal untuk dapat melayani jemaah dengan berbagai tantangan baik kesehatan, lokasi pemondokan, aspek sosio kultural, cuaca panas, kepadatan jemaah, dan lain sebagainya," ujar politisi Fraksi PKS ini. Ia mengusulkan penambahan kuota petugas haji bidang kesehatan, baik di kloter maupun di PPIH Arab Saudi, untuk tahun mendatang.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kondisi Ambulans dan Fasilitas Medis

Persoalan lain yang mendapat perhatian serius adalah kondisi ambulans milik Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). Dari sembilan unit ambulans milik KKHI, sebagian besar dinilai sudah tua dan tidak optimal digunakan. "Eksisting ambulans yang dimiliki Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) sebanyak 9 unit sudah tua, AC tidak dingin, dan tidak layak. Otomatis yang dapat digunakan 15 unit ambulans yang statusnya menyewa," jelas Netty.

Padahal, kebutuhan ambulans meningkat tajam menjelang Armuzna untuk evakuasi jemaah sakit dari pemondokan menuju rumah sakit maupun lokasi-lokasi ibadah utama. Netty pun mengusulkan peremajaan armada ambulans pengadaan 2010 dengan unit baru agar pelayanan kesehatan jemaah tidak terganggu. Selain itu, ia meminta pembaruan alat kesehatan dan pembangunan gedung KKHI yang lebih ramah pasien.

Gedung KKHI yang Kurang Ramah Pasien

Menurut Netty, gedung KKHI Makkah yang saat ini mencapai 17 lantai menyulitkan proses penanganan pasien rujukan dan observasi. "Gedung baru tidak perlu tinggi (17 lantai) tapi bisa menampung jamaah yang membutuhkan rujukan sebelum ke RS Arab Saudi dan sebagai tempat observasi sementara minimal 24 jam," usul Netty.

Dengan berbagai temuan ini, Timwas Haji DPR berharap pemerintah segera mengambil langkah perbaikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga