Menkomdigi: Pemerintah Terbuka pada Aspirasi, Ruang Digital Sehat Harus Dijaga
Menkomdigi: Pemerintah Terbuka pada Aspirasi, Ruang Digital Sehat

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengimbau kepada seluruh masyarakat yang akan menggelar aksi demonstrasi untuk senantiasa menjaga ketertiban umum serta keselamatan bersama. Selain kondisi di lapangan, Meutya juga menyoroti pentingnya menjaga suasana kondusif di ruang digital dari ancaman hoaks dan provokasi.

Pemerintah Hormati Hak Berpendapat

Meutya menegaskan bahwa pemerintah sangat menghormati hak warga negara dalam menyampaikan pendapat di muka umum. Kritik dan masukan dari masyarakat dinilai sebagai pilar penting dalam iklim demokrasi.

“Pemerintah terbuka terhadap aspirasi, kritik, dan masukan dari masyarakat. Menyampaikan pendapat adalah hak warga negara yang dijamin dalam demokrasi. Karena itu, ruang untuk menyampaikan aspirasi harus tetap kita jaga bersama,” ujar Meutya dalam keterangan resminya, Sabtu (13/6/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kendati demikian, ia mengingatkan agar penyampaian aspirasi dilakukan secara damai tanpa merusak fasilitas publik. Menurutnya, aksi yang tertib justru akan membuat pesan yang dibawa lebih mudah diterima oleh publik.

“Kritik boleh disampaikan dengan tegas, tetapi harus tetap damai. Jangan mudah terprovokasi sehingga memicu kekerasan, perusakan, pembakaran, penyerangan, atau tindakan lain yang membahayakan masyarakat,” tegasnya.

Fenomena Ilusi Algoritma

Secara khusus, Menkomdigi meminta netizen dan simpatisan aksi untuk menyaring informasi yang beredar di media sosial selama demonstrasi berlangsung. Ia mengingatkan adanya fenomena “ilusi algoritma” yang kerap mengecoh pengguna internet. Fenomena ini membuat konten yang muncul di linimasa terasa seperti mewakili realitas seluruhnya, padahal hanya bekerja berdasarkan riwayat interaksi dan emosi pengguna.

“Jangan langsung menganggap linimasa sebagai gambaran lengkap keadaan. Ilusi algoritma bisa membuat kita merasa semua orang sedang marah, semua orang membenarkan kekerasan, atau semua informasi yang kita lihat adalah fakta. Padahal, belum tentu demikian. Karena itu, periksa informasi dari berbagai sumber, pahami konteksnya, dan jangan mudah terprovokasi,” kata Meutya.

Di akhir keterangannya, Meutya meminta masyarakat jeli melihat potongan video atau informasi tanpa konteks yang sengaja disebar untuk memecah belah.

“Ruang digital tidak boleh menjadi tempat untuk memperbesar provokasi. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi hoaks, hasutan kekerasan, dan manipulasi informasi tidak boleh diberi ruang. Mari kita jaga aspirasi tetap tersampaikan secara damai dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga