Gus Ipul Tekankan Tiga Prioritas Pengelolaan Sekolah Rakyat
Gus Ipul Tekankan Tiga Prioritas Pengelolaan Sekolah Rakyat

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengingatkan seluruh kepala Sekolah Rakyat di Indonesia untuk memprioritaskan tiga hal penting dalam pengelolaan sekolah. Ketiga prioritas tersebut adalah menuntaskan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) beserta pendataan awal siswa, menjaga sarana dan prasarana sebagai barang milik negara, serta memperkuat dokumentasi dan narasi publik mengenai Sekolah Rakyat.

Arahan tersebut disampaikan Gus Ipul dalam rapat koordinasi secara daring bersama kepala Sekolah Rakyat se-Indonesia pada Rabu, 5 Agustus 2026. Dalam arahannya, Gus Ipul menekankan bahwa MPLS secara umum telah berjalan dengan baik, namun masih ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bersama.

Tiga Prioritas Utama Pengelolaan Sekolah Rakyat

Gus Ipul menyampaikan tiga hal penting yang harus menjadi fokus seluruh kepala Sekolah Rakyat. Pertama, MPLS harus tuntas dan data awal siswa (baseline) harus terdata dengan lengkap. Kedua, sarana dan prasarana yang merupakan barang milik negara harus dijaga sejak awal. Ketiga, dokumentasi kegiatan harus diperkuat menjadi narasi publik yang positif.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"MPLS secara umum berjalan dengan baik. Saya ingin menyampaikan tiga hal penting sebagai pengingat kita semua. Yang pertama MPLS Sekolah Rakyat harus tuntas dan baseline siswa harus terdata. Yang kedua, sarana dan prasarana sebagai barang milik negara harus dijaga sejak awal. Yang ketiga, dokumentasi harus diperkuat menjadi narasi publik," kata Gus Ipul dalam rapat tersebut.

Pentingnya Data Kesehatan dan DNA Talent

Gus Ipul meminta seluruh kepala sekolah memastikan hasil pemeriksaan kesehatan dan pemetaan bakat (DNA Talent) seluruh siswa terdokumentasi dengan baik. Ia juga mengingatkan agar Program Taruna Bhakti terus dilaksanakan dan dilaporkan secara berkala sebagai bagian dari pembinaan karakter siswa.

"Pastikan cek kesehatan siswa tuntas, data kesehatan tersimpan rapi, dan tes DNA Talent berjalan untuk seluruh siswa. Sukseskan Program Taruna Bhakti dan laporkan pelaksanaannya secara berkala," ujarnya.

Membangun Budaya Disiplin dan Kepedulian terhadap Aset Negara

Selain itu, Gus Ipul menekankan pentingnya membangun budaya disiplin dan kepedulian terhadap fasilitas sekolah yang merupakan aset negara. Ia mengingatkan agar gedung sekolah yang megah tidak berubah menjadi kotor dan tidak terawat dalam waktu satu tahun.

"Jangan sampai gedung yang sebesar itu dalam satu tahun berubah menjadi gedung yang kotor, tidak terawat, dan menimbulkan kesan negatif. Bangun budaya tertib dan bersih sejak awal. Tanamkan kepada seluruh warga sekolah bahwa ini dibangun dengan uang rakyat sehingga harus dijaga bersama," tegasnya.

Menurut Gus Ipul, disiplin harus menjadi budaya yang diterapkan oleh seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, petugas keamanan, hingga petugas kebersihan. Kepala sekolah harus menjadi komandan tertinggi sekaligus kompas moral di lingkungan sekolah.

"Kita sedang mempersiapkan generasi emas. Kepala sekolah harus menjadi komandan tertinggi sekaligus kompas moral yang membangun suasana disiplin di sekolah. Kepala sekolahnya disiplin, guru-gurunya disiplin, petugas kebunnya disiplin, petugas dapurnya disiplin, semuanya harus memberi teladan," katanya.

Dokumentasi sebagai Narasi Publik

Gus Ipul juga meminta kepala sekolah memperbanyak dokumentasi kegiatan sebagai bagian dari penguatan narasi publik Sekolah Rakyat. Dokumentasi yang lengkap akan menjadi bukti perkembangan siswa dan keberhasilan program.

"Rekam seluruh proses MPLS secara utuh, mulai siswa diantar orang tua, pemeriksaan kesehatan, aktivitas sehari-hari hingga kehidupan di asrama. Dokumentasikan momen-momen sederhana yang menunjukkan perkembangan anak-anak kita karena itu akan menjadi baseline perubahan mereka," ujar Gus Ipul.

Tantangan di Lapangan: Kesehatan dan Kebersihan

Dalam sesi dialog, Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 30 Sidrap, Budiman, melaporkan bahwa pelaksanaan MPLS berjalan baik, namun masih menghadapi tantangan pada masa adaptasi siswa. Beberapa siswa terpaksa dipulangkan karena mengalami demam selama dua hingga tiga hari dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

"Alhamdulillah kami sudah menjalankan MPLS bersama Akademi Militer. Namun kami masih menghadapi beberapa tantangan, terutama terkait kondisi kesehatan siswa. Ada beberapa siswa yang terpaksa kami pulangkan karena mengalami demam selama dua hingga tiga hari dan membutuhkan penanganan lebih lanjut," ujar Budiman.

Budiman berharap adanya dukungan tenaga kesehatan yang dapat siaga di lingkungan Sekolah Rakyat. Dengan adanya tenaga medis, siswa yang sakit bisa langsung ditangani di sekolah sehingga tidak perlu dipulangkan. Selain itu, ia juga menyampaikan tantangan dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah yang masih berada pada tahap pembangunan.

"Pengelolaan sampah masih menjadi tantangan bagi kami, terutama karena aktivitas pembangunan masih berlangsung. Kami berharap ada dukungan fasilitas agar kebersihan sekolah dapat terus terjaga," ujarnya.

Empati dalam Masa Adaptasi

Menanggapi laporan tersebut, Gus Ipul meminta seluruh kepala sekolah tetap mengedepankan empati dalam menghadapi masa adaptasi siswa. Ia menegaskan bahwa bulan pertama dan kedua merupakan masa adaptasi sehingga kepala sekolah harus sabar dan penuh empati.

"Kita belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa anak-anak kita memang masih rentan dari sisi kesehatan. Kalau memang membutuhkan layanan kesehatan yang lebih baik, keputusan memulangkan sementara kepada orang tua adalah langkah yang tepat. Bulan pertama dan kedua memang menjadi masa adaptasi sehingga seluruh kepala sekolah harus sabar dan penuh empati," kata Gus Ipul.

Gus Ipul memastikan Kementerian Sosial akan menindaklanjuti berbagai masukan, termasuk koordinasi dengan pemerintah daerah terkait kebutuhan fasilitas pendukung.

Pengamanan Barang Milik Negara

Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi (Kapusdiklatbangprof) Kemensos, Afrizon Tanjung, mengingatkan seluruh kepala sekolah agar melakukan pencatatan dan pengamanan barang milik negara secara tertib. Seluruh aset harus dicatat sesuai ketentuan dan dipastikan keberadaannya agar tidak terjadi kehilangan maupun kerusakan.

"Barang-barang yang sudah ada di Sekolah Rakyat harus dipelihara dengan baik. Seluruh aset harus dicatat sesuai ketentuan dan dipastikan keberadaannya agar tidak terjadi kehilangan maupun kerusakan," ujar Afrizon.

Penutup: Tanggung Jawab Mengelola Aset Negara

Menutup rapat, Gus Ipul kembali menegaskan bahwa keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya diukur dari proses pembelajaran, tetapi juga dari kemampuan seluruh pengelola dalam menjaga aset negara. Barang milik negara harus dipertanggungjawabkan dengan baik, termasuk laptop, kursi, lemari, dan seluruh fasilitas yang ada.

"Barang milik negara harus dipertanggungjawabkan dengan baik. Kepala sekolah harus menjaga laptop, kursi, lemari, dan seluruh fasilitas yang ada. Itu menjadi bagian dari kinerja kita dalam mengelola Sekolah Rakyat," pungkasnya.