Waka MPR Dorong Kesadaran Kolektif Antisipasi Hantavirus
Waka MPR Dorong Kesadaran Kolektif Antisipasi Hantavirus

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif untuk mengantisipasi potensi penyebaran Hantavirus di Indonesia. Menurutnya, kewaspadaan terhadap virus ini harus dilakukan bersama melalui edukasi dan peningkatan kesiapsiagaan nasional.

Langkah Konkret Pemerintah

Negara melalui Kementerian Kesehatan telah mengambil langkah konkret untuk mewaspadai ancaman Hantavirus. Meski demikian, kekhawatiran publik harus diatasi secara bersama. Hal ini disampaikan Lestari dalam diskusi daring bertema 'Mengenal Penyebaran Hantavirus dan Bagaimana Memitigasinya' yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Kamis (14/5/2026).

Narasumber dan Diskusi

Diskusi yang dimoderatori Tim Ahli Wakil Ketua MPR RI Tantri Moerdopo menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes Dr. Sumarjaya, Guru Besar Kedokteran UI Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, dan Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama. Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi turut hadir sebagai penanggap.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Data Kasus Hantavirus

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, pada periode 2024-2026 tercatat 23 kasus Hantavirus terkonfirmasi dengan tiga kematian. WHO juga telah menetapkan Hantavirus sebagai virus yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, edukasi dan sosialisasi terkait ancaman ini harus terus ditingkatkan.

Upaya Pencegahan

Sumarjaya menyatakan pemerintah telah melakukan berbagai langkah kewaspadaan, termasuk kerja sama dengan imigrasi melalui skrining di pintu masuk negara menggunakan thermal scanner dan kewajiban deklarasi di All Indonesia. Selain itu, penerapan protokol kesehatan serta pola hidup bersih dan sehat di masyarakat juga dilakukan.

Erlina Burhan menjelaskan Hantavirus umumnya dibawa oleh binatang pengerat dan dapat menyebabkan penyakit berat pada paru-paru (HPS) maupun ginjal (HFRS). Gejala awal mirip flu biasa, sehingga sering terlambat ditangani. Masa inkubasi tidak menimbulkan gejala khusus, namun gejala yang muncul berupa demam, mual, dan sesak napas. Masyarakat diingatkan untuk mewaspadai area gudang, bekas banjir, dan lokasi yang banyak tikus.

Perspektif Global

Tjandra Yoga Aditama menyebut tingkat penularan Hantavirus secara global masih rendah, namun kewaspadaan tetap diperlukan tanpa berlebihan agar tidak menimbulkan kepanikan. Ia mencontohkan kasus warga Singapura yang diduga terpapar di kapal pesiar.

Nurhadi mengapresiasi langkah antisipasi Kemenkes dan menekankan pentingnya kesiapsiagaan nasional. Sistem kesehatan, surveilans, edukasi, dan sosialisasi harus terus disempurnakan.

Kebijakan Isolasi

Wartawan senior Saur Hutabarat menambahkan bahwa setiap negara memiliki kebijakan berbeda terkait masa isolasi. WHO merekomendasikan monitoring dan karantina selama 42 hari, namun Kanada menerapkan 21 hari, Yunani 45 hari, dan Inggris 72 jam di klinik dengan pengamatan khusus. Ia mengingatkan bahwa yang terpenting adalah mencegah kehadiran tikus sebagai pembawa virus.

"Jadikan tikus di rumah, di got, dan di sawah musuh bersama. Perangi tikus dengan benar," pungkas Saur.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga