Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan penarikan seluruh pasukan militernya dari Irak. Militer AS dijadwalkan meninggalkan negara tersebut pada akhir September 2026, mengakhiri kehadiran yang berlangsung selama 23 tahun sejak invasi tahun 2003.
Pengumuman Trump dan Pernyataan PM Irak
"Kami rasa kami tidak lagi membutuhkan militer di sana," ujar Trump saat bertemu Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi di Washington DC, seperti dilansir Al Jazeera pada Rabu (15/7/2026). Pertemuan tersebut menegaskan komitmen kedua negara untuk mengakhiri misi militer AS di Irak.
Al-Zaidi menyatakan bahwa "pasukan AS akan meninggalkan Irak" pada 30 September, namun menambahkan bahwa "perusahaan-perusahaan AS akan tetap berada di Irak." Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kehadiran militer berakhir, hubungan ekonomi dan investasi AS di Irak akan berlanjut.
Latar Belakang Kehadiran Militer AS
Militer AS telah berada di Irak selama 23 tahun sejak invasi dimulai pada tahun 2003. Saat itu, AS memimpin koalisi untuk menggulingkan mantan Presiden Irak Saddam Hussein. Selama dua dekade lebih, pasukan AS terlibat dalam berbagai operasi keamanan dan pemberantasan kelompok ekstremis.
Pentagon menyatakan bahwa mereka menegaskan kembali perjanjian tahun 2024 dengan Irak untuk mengakhiri misi militer melawan ISIL (ISIS). Sekitar 2.500 tentara AS tercatat masih bertugas di Irak pada saat perjanjian tersebut disepakati. Penarikan ini merupakan implementasi dari kesepakatan tersebut.
Dampak dan Reaksi
Keputusan ini menandai perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah. Penarikan pasukan diharapkan dapat mengurangi ketegangan regional dan memberikan ruang bagi Irak untuk mengelola keamanannya sendiri. Namun, masih ada kekhawatiran tentang potensi kekosongan keamanan yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok militan.
Komisi I DPR RI sebelumnya meminta pemerintah untuk menyikapi secara terukur kebijakan tarif 20% yang diterapkan Trump di Selat Hormuz, yang terkait dengan dinamika keamanan regional. Namun, penarikan pasukan ini merupakan langkah terpisah yang lebih berfokus pada kehadiran militer AS di Irak.
Dengan penarikan ini, AS mengakhiri salah satu misi militer terpanjangnya di Timur Tengah, meninggalkan warisan yang kompleks di Irak pasca-Saddam.



