Iran Menutup Selat Hormuz sebagai Respons Serangan AS-Israel
Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah Iran menutup jalur pelayaran strategis tersebut sebagai respons atas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026. Langkah Iran tidak hanya berdampak terhadap kepentingan AS dan Israel di kawasan Teluk, tetapi juga mengguncang perekonomian global. Sebab, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.
Sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dunia melewati perairan tersebut. Penutupan jalur ini membuat harga bahan bakar global melonjak dan terus berfluktuasi mengikuti perkembangan konflik serta perundingan penghentian serangan.
Dampak Langsung terhadap Pasokan Energi Global
Penutupan Selat Hormuz secara langsung mengganggu pasokan minyak dan LNG ke berbagai negara. Negara-negara pengimpor energi seperti Jepang, Korea Selatan, India, dan Tiongkok menjadi yang paling terpengaruh karena sebagian besar kebutuhan energi mereka bergantung pada jalur ini. Harga minyak mentah dunia diperkirakan naik lebih dari 15% dalam sepekan pertama penutupan, sementara harga LNG melonjak hingga 20%.
Menurut analis energi, fluktuasi harga akan terus terjadi seiring eskalasi atau de-eskalasi konflik. "Setiap perkembangan negosiasi atau serangan balasan akan langsung tercermin pada harga komoditas energi," ujar seorang pengamat energi dari lembaga riset internasional.
Upaya Diplomasi dan Negosiasi
Berbagai negara kini berupaya menengahi konflik antara Iran, AS, dan Israel. Dewan Keamanan PBB telah mengadakan sidang darurat untuk membahas situasi ini. Sementara itu, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mendorong dialog guna menghindari krisis berkepanjangan.
Iran sendiri menegaskan bahwa penutupan akan dicabut jika serangan AS dan Israel dihentikan. Namun, AS dan Israel belum menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan operasi militer mereka. Situasi ini membuat pasar energi berada dalam ketidakpastian tinggi.
Prospek ke Depan
Para analis memperkirakan bahwa jika konflik berlarut-larut, dampaknya bisa meluas ke sektor lain seperti transportasi dan manufaktur. Kenaikan harga energi akan mendorong inflasi global dan memperlambat pemulihan ekonomi pasca-pandemi. Negara-negara anggota IEA (International Energy Agency) telah bersiap melepas cadangan strategis minyak mereka untuk menstabilkan pasar, namun langkah ini dianggap hanya solusi sementara.
Dengan demikian, dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Iran, AS, dan Israel. Apakah diplomasi akan membuahkan hasil atau justru konflik semakin meluas, semuanya akan menentukan arah harga energi global dalam beberapa pekan ke depan.



