Pujian Trump Tuai Cemoohan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi sasaran ejekan warganet setelah menyebut Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi sebagai 'muda dan tampan' dalam pertemuan di Gedung Putih pada Selasa (14/7/2026). Pernyataan tersebut disampaikan Trump di hadapan awak pers, dan videonya viral di media sosial.
Dalam cuplikan yang beredar, Trump berkata, "Dan dia seorang pria muda. Dia muda dan tampan, itu yang tidak saya sukai, saya tidak senang tentang itu," sambil bercanda menepuk kakinya. Komentar ini sontak menuai reaksi dari pemirsa Fox News yang mengomentarinya di platform X.
Reaksi Netizen: Dari Sindiran hingga Kritik
Seorang pengguna X menulis, "Jadi, strategi diplomasi baru Trump adalah 'puji orang itu dan berharap pertemuan berjalan lebih lancar'. Ini terjadi setelah Trump dituduh 'semakin tidak waras setiap harinya'." Netizen lain mempertanyakan, "Mengapa dia harus mengomentari penampilan setiap orang? Aneh sekali."
Komentar lainnya menyebut, "Kecemburuan Trump adalah satu-satunya pendorong dalam segala hal yang dia lakukan dan telah lakukan dalam hidupnya yang menyedihkan." Seorang pengguna menambahkan, "Tambahkan ke daftar komentar aneh dan tidak pantas tentang penampilan pria."
Latar Belakang Pertemuan: Perjanjian Energi dan Perdagangan
Pertemuan Trump dengan al-Zaidi berlangsung di Ruang Oval di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Dilaporkan bahwa al-Zaidi akan menandatangani perjanjian dengan Trump yang berfokus pada energi dan perdagangan, yang bertujuan meningkatkan investasi di perusahaan-perusahaan AS.
Juru bicara pemerintah Irak, Haider al-Aboudi, mengatakan kepada wartawan bahwa kunjungan ke Gedung Putih akan menandai pergeseran hubungan kedua negara "dari kerangka manajemen krisis ke kemitraan ekonomi strategis." Menurut al-Aboudi, fokus pertemuan tersebut bukanlah kesepakatan "sementara", melainkan membangun "kemitraan jangka panjang yang tahan lama, yang melayani kepentingan bersama kedua negara."
Dampak Diplomatik
Meskipun pujian Trump menuai kritik, pertemuan ini dianggap penting bagi hubungan AS-Irak. Al-Aboudi menekankan bahwa perjanjian yang akan ditandatangani bertujuan untuk memperkuat kerja sama ekonomi, bukan sekadar respons terhadap krisis. Namun, gaya komunikasi Trump yang tidak konvensional kembali menjadi sorotan, terutama di tengah upaya diplomatik yang sensitif.



