Upaya penyelamatan korban gempa di Venezuela masih terus berlangsung setelah dua gempa bumi dahsyat mengguncang negara itu pada Rabu (24/06) sore. Tim SAR, warga setempat, dan keluarga korban bahu-membahu mencari serta mengevakuasi orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 terjadi hanya berselang 39 detik, memperparah kerusakan di wilayah sesar geologi.
Kewalahan Tanpa Alat Berat
Menurut mahasiswa Antoan Marn yang berbicara kepada BBC Mundo dari Caracas, "Tim SAR kewalahan. Mereka mengeluarkan orang dengan kuku dan gigi. Mereka tidak memiliki peralatan khusus. Kami kekurangan bantuan." Data resmi menyebutkan sedikitnya 235 orang tewas dan lebih dari 4.300 terluka, namun dikhawatirkan jumlah korban jiwa akan terus bertambah karena masih banyak yang terjebak.
Pada Kamis (25/06), tim SAR dari berbagai negara mulai berdatangan ke Venezuela untuk membantu pencarian di Caracas dan kota-kota lain. Namun, di La Guaira, warga melaporkan bahwa tim SAR belum tiba dan puluhan orang masih terjebak karena minimnya peralatan. Video di media sosial menunjukkan bangunan perumahan dan komersial runtuh total, terutama di Caracas dan La Guaira.
Kisah Haru di Tengah Reruntuhan
Jurnalis Venezuela, Roman Camacho, mengunggah foto dan video memilukan dari La Guaira pada Kamis pagi. Dalam salah satu gambar, terlihat seorang pemuda bernama Amir Infante sedang minum air, namun bagian bawah tubuhnya tertimpa pecahan beton. "Tidak ada alat berat, tidak ada peralatan yang diperlukan untuk memindahkan puing-puing," jelas Camacho. Beberapa jam kemudian, ibu Amir mengonfirmasi bahwa putranya meninggal dunia.
Di lokasi lain, seorang pemuda berteriak "Yesus!" sambil berjalan di antara reruntuhan. Ia menemukan tiga orang yang masih hidup. "Di sini ada tiga orang hidup," katanya sambil menunjuk. "Siapa namamu?" tanyanya melalui lubang kecil. "Anthony," jawab suara hampir tidak terdengar. Dengan mata berkaca-kaca, pemuda itu kembali berteriak, "Saudara, bicaralah padaku." Petugas pemadam kebakaran dan paramedis, menurut Camacho, "tidak berdaya."
Kesulitan Komunikasi dan Harapan dari Penyelamatan
Terputusnya jaringan telekomunikasi dan kurangnya sumber daya menyulitkan respons awal terhadap darurat. Namun, seiring waktu, tim SAR bergerak lebih cepat ke area kritis. Stasiun televisi lokal menyiarkan kesaksian putus asa sekaligus gambar mengharukan dari korban yang berhasil diselamatkan hidup-hidup. "Tuhan Maha Besar!" terdengar suara seorang pria saat seorang bayi diselamatkan dari reruntuhan, seperti terekam dalam video yang disiarkan media Noticias en Red.
Kasus lain yang membangkitkan harapan adalah penyelamatan tiga kakak beradik di La Guaira. Mereka keluar dari reruntuhan dengan wajah penuh debu. "Kemarilah, nak, kemari," kata seorang pria kepada anak pertama. Kemudian seorang anak perempuan keluar dan pria itu bertanya, "Apakah kalian bersaudara?" dan dia menjawab, "Ya, kami bertiga." Tak lama kemudian, anak ketiga keluar sambil terisak, seluruh tubuh tertutup debu. Dikhawatirkan masih ratusan orang hidup terjebak di bawah reruntuhan.



