Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan bahwa gelaran Jakarta Fair atau Pekan Raya Jakarta (PRJ) bukan hanya sekadar ajang hiburan tahunan dalam rangka HUT Jakarta. Menurutnya, acara ini juga menjadi motor penggerak bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sumber pendapatan daerah.
"Itu kan impact daripada UMKM, pajak juga akan ada dampaknya kan. Nah, itulah kita membantu fasilitasi," kata Rano dalam wawancara eksklusif dengan CNN Indonesia.
Target Transaksi Rp8 Triliun
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan nilai transaksi Jakarta Fair tahun ini mencapai Rp8 triliun, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sekitar Rp7,3 triliun. Rano menyebutkan bahwa acara ini diperkirakan akan dikunjungi sekitar 4 juta orang selama masa penyelenggaraan.
"Kemarin saja baru minggu kedua, minggu pertama katanya udah 1,5 juta. Kebetulan memang PRJ itu selalu dilaksanakan di libur-libur sekolah kan. Jadi pengunjung itu bukan hanya masyarakat Jakarta, dari aglomerasi datang ke Jakarta," ujarnya.
Puncak Perayaan HUT ke-499 Jakarta
Dalam kesempatan itu, Rano juga menjelaskan bahwa Pemprov DKI telah menyiapkan puncak perayaan HUT ke-499 Jakarta yang akan digelar pada 27 Juni dan 28 Juni di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Ia mengatakan, dalam acara puncak tersebut, Pemprov akan memaparkan hal-hal yang dilakukan menyambut 500 tahun usia Jakarta tahun depan.
Rano menambahkan bahwa jalan di kawasan tersebut akan ditutup sementara untuk pelaksanaan acara yang menghadirkan sejumlah artis papan atas. "Bahasanya mungkin bukan car free night, tapi memang jalan kita tutup. Saya yakin dari mulai sore ini kegiatannya mungkin jam 11 malam selesai. Tapi artinya dari jam 4 sore pasti yang namanya HI itu akan membludak," katanya.
Sejarah dan Dampak Ekonomi Jakarta Fair
Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Uus Kuswanto, dalam pernyataannya di Panggung Jakarta Fair pada 21 Juni lalu menyebut bahwa sejak pertama kali digelar pada 1968, Jakarta Fair telah menjadi ruang penting bagi pelaku usaha untuk memasarkan produk sekaligus menjaga optimisme ekonomi. Dalam perjalanannya, kegiatan ini hanya sempat ditiadakan pada 2020 akibat pandemi Covid-19.
Berdasarkan data penyelenggara, Jakarta Fair 2026 mencatat antusiasme masyarakat yang tinggi. Dalam satu pekan pertama penyelenggaraan, jumlah pengunjung mencapai lebih dari 1,5 juta orang dengan rata-rata kunjungan harian hampir 200.000 orang. Angka tersebut mencerminkan tingginya aktivitas ekonomi, kreativitas, serta perputaran produk lokal di Jakarta.
"Melihat kondisi Jakarta Fair saat ini, pergerakan ekonomi nasional, khususnya di Jakarta, menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Jakarta Fair menjadi salah satu indikator nyata bahwa kondisi ekonomi kita berada dalam keadaan yang baik dan stabil," kata Uus dalam keterangan resmi Pemprov DKI Jakarta.



