Seorang anggota militer Amerika Serikat tewas dan satu lainnya terluka saat melakukan pemusnahan amunisi dari pesawat nirawak (drone) Iran yang jatuh di Irak utara pada Sabtu, 18 Juli 2026. Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) mengonfirmasi insiden tersebut dalam sebuah pernyataan resmi.
Peledakan Terkontrol Berujung Tragedi
Menurut Centcom, korban tewas ketika pasukan AS melaksanakan "peledakan terkontrol dari amunisi yang belum meledak" yang ditemukan di puing-puing drone Iran. Satu prajurit lainnya mengalami luka-luka dan telah mendapatkan perawatan medis. Identitas kedua prajurit belum diungkapkan hingga pemberitahuan kepada keluarga selesai dilakukan.
Insiden ini menambah jumlah korban di pihak Amerika Serikat di tengah konflik yang terus meluas dengan Iran di kawasan Timur Tengah. Sehari sebelumnya, serangan terhadap sebuah pangkalan militer AS di Yordania menewaskan dua tentara AS dan menyebabkan satu personel lainnya dilaporkan hilang.
Konflik AS-Iran Semakin Memanas
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dengan serangkaian serangan balasan di berbagai lokasi di Timur Tengah. Selat Hormuz, jalur pelayaran kritis untuk minyak dunia, nyaris lumpuh akibat saling serang antara kedua negara. Situasi ini memicu kekhawatiran internasional akan meluasnya konflik regional.
Centcom menyatakan bahwa operasi pemusnahan amunisi merupakan prosedur standar untuk menetralisir ancaman dari sisa-sisa persenjataan musuh. Namun, kecelakaan semacam ini menunjukkan risiko tinggi yang dihadapi personel militer dalam menangani material berbahaya di zona konflik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada komentar resmi dari pihak Iran mengenai insiden tersebut. Pemerintah AS dilaporkan sedang mengevaluasi langkah-langkah keamanan tambahan untuk melindungi pasukannya di Irak dan kawasan sekitarnya.



