Situasi Wamena Berangsur Kondusif Usai Perang Suku Tewaskan 13 Orang
Situasi Wamena Berangsur Kondusif Usai Perang Suku

Polda Papua mengklaim situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, berangsur kondusif pasca terjadinya perang antarsuku yang menewaskan 13 orang. Kabid Humas Polda Papua Kombes Cahyo Sukarnito menyatakan bahwa untuk menjaga stabilitas keamanan, aparat gabungan Polres Jayawijaya dan Sat Brimob Polda Papua masih disiagakan di tujuh titik strategis di wilayah Kota Wamena.

Upaya Preventif dan Dialog

Langkah ini dilakukan sebagai upaya preventif untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat serta mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas. "Situasi di Wamena saat ini berangsur-angsur kondusif. Masyarakat sudah mulai kembali melaksanakan aktivitas seperti biasa, baik kegiatan peribadatan, perkantoran maupun aktivitas pendidikan," kata Cahyo dalam keterangannya, Senin (18/5).

Cahyo mengatakan pemulihan situasi dilakukan melalui koordinasi intensif antara pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan kunjungan dan dialog bersama masyarakat Lanny Jaya di Gereja Gonambur, Distrik Sinakma, Kabupaten Jayawijaya, Minggu (17/5). Kegiatan tersebut dihadiri Wamendagri Ribka Haluk, Gubernur Papua Pegunungan Jhon Tabo, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang, Danrem 172/PWY Brigjen TNI Roby Suryadi, LO Polda Papua Pegunungan Kombes Andi Yoseph Enoch, Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara, Kapolres Lanny Jaya AKBP Frans D Tamaela, serta sejumlah pejabat daerah dan tokoh masyarakat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ajakan Menahan Diri

Dalam dialog tersebut, Gubernur Papua Pegunungan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta mengajak seluruh masyarakat untuk menahan diri dan menjaga situasi keamanan tetap kondusif. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat Lanny Jaya yang berada di Wamena agar dapat kembali ke daerah asalnya guna mencegah meluasnya konflik sosial. "Sementara itu, perwakilan masyarakat menyampaikan harapan agar penyelesaian konflik dilakukan melalui mekanisme adat sebagai langkah utama menciptakan perdamaian antara kedua belah pihak," tutur Cahyo. "Selain itu, masyarakat juga meminta adanya jaminan keamanan dari aparat selama proses perjalanan kembali ke Lanny Jaya," sambungnya.

Pengamanan dan Patroli

Cahyo menyampaikan aparat keamanan memastikan akan terus melakukan pengamanan dan pengawalan guna menjamin situasi tetap aman dan terkendali. "Langkah persuasif dan dialogis akan terus dikedepankan bersama pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, dan seluruh unsur terkait agar situasi tetap aman dan kondusif," ujarnya. "Kehadiran aparat keamanan bertujuan memberikan perlindungan kepada masyarakat serta memastikan seluruh aktivitas berjalan aman," sambung Cahyo.

Selain melakukan pengamanan di sejumlah titik, aparat gabungan juga terus melaksanakan patroli dan penjagaan terbatas pada lokasi-lokasi tertentu sebagai bentuk kesiapsiagaan. Lebih lanjut, Polda Papua mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap menjaga persatuan, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar, serta bersama-sama menjaga situasi kamtibmas yang aman dan damai di Papua Pegunungan.

Korban Jiwa dan Pengungsi

Perang suku di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, menelan korban jiwa hingga 13 orang dan 19 orang lainnya dilaporkan luka-luka. Bentrok suku di Wamena melibatkan Suku Pirime (Lanny) dan Suku Kurima (Woma), yang awalnya terjadi di Distrik Woma, Jayawijaya pada Kamis (14/5) namun meluas di sejumlah lokasi di Jayawijaya hingga Jumat (15/5). "Berdasarkan data update terbaru korban perang suku yang meninggal dunia 13 orang," kata Kasi Humas Polres Jayawijaya, Ipda Efendi Al Husaini, Minggu (17/5).

Sementara dari 19 orang luka-luka, tiga orang di antaranya mengalami luka berat. Puluhan korban luka masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RUSD) Wamena. "Korban luka berat berjumlah tiga orang. Sementara luka ringan berjumlah 16 orang," katanya. Pihak kepolisian masih melakukan pendataan jumlah bangunan yang dirusak atau dibakar saat perang berlangsung. Namun, ratusan warga dilaporkan mengungsi. "Untuk pengungsi total 789 orang, di antaranya 298 anak-anak, 122 lansia. Sementara jumlah berdasarkan jenis kelamin 315 pria dan 476 wanita," ungkapnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga