Jakarta - Pelayat yang menghadiri upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan meningkat drastis dibandingkan dengan hari sebelumnya, Sabtu (4/7). Ribuan orang berbondong-bondong ke lokasi pemakaman sambil meneriakkan seruan balas dendam terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dianggap bertanggung jawab atas kematian pemimpin tertinggi Iran tersebut.
Seruan Balas Dendam Menggema di Tengah Duka
Dilansir dari Aljazeera, Minggu (5/7/2026), para pelayat yang mengenakan pakaian hitam berjalan kaki menuju lokasi pemakaman sambil membawa spanduk dan bendera. Mereka dengan lantang menyerukan pembunuhan terhadap Presiden Trump. Salah satu pelayat, Gholamreza Sabooni (29), seorang pekerja toko kelontong, menyatakan, "Saya datang ke sini untuk berteriak dan menuntut balas dendam. Mereka membunuh imam kami, kita harus membunuh pemimpin mereka, Trump."
Suasana duka bercampur kemarahan terlihat jelas di antara para pelayat. Banyak yang membawa foto Ayatollah Khamenei dan meneriakkan yel-yel anti-Amerika. Peningkatan jumlah pelayat ini menunjukkan besarnya dukungan rakyat terhadap pemimpin yang telah memimpin Iran selama beberapa dekade.
Latar Belakang Ketegangan Iran-AS
Ancaman terhadap Presiden Trump bukanlah hal baru. Otoritas Amerika Serikat telah melacak ancaman dari Iran terhadap Trump dan pejabat pemerintahan lainnya selama bertahun-tahun. Ketegangan ini berakar pada perintah Trump untuk membunuh Jenderal Qassem Soleimani pada tahun 2020, yang saat itu memimpin Pasukan Quds Garda Revolusi Iran. Tindakan tersebut memicu kemarahan besar di Iran dan meningkatkan permusuhan antara kedua negara.
Pelayat lainnya, Mohammad Reza Sharifi, menekankan pentingnya respons tegas dari pemerintah Iran. "Kebijakan luar negeri kita seharusnya tidak dibentuk sedemikian rupa sehingga darah pemimpin kita yang gugur dinodai dan negara-negara lain mampu melakukan hal-hal seperti itu, tanpa tanggapan serius dari pemerintah dan sistem diplomatik kita," ujarnya.
Dampak dan Respons Internasional
Pemakaman Ayatollah Khamenei tidak hanya dihadiri oleh warga Iran, tetapi juga oleh perwakilan dari berbagai negara. Namun, Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya memilih untuk tidak mengirim delegasi, menandakan ketegangan diplomatik yang masih berlangsung. Ketiadaan delegasi AS dan Barat ini semakin memperkuat sentimen anti-Barat di kalangan pelayat.
Para analis memperkirakan bahwa seruan balas dendam ini dapat meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Iran mungkin akan mengambil langkah-langkah provokatif terhadap kepentingan AS di kawasan tersebut. Namun, hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran mengenai langkah balasan yang akan diambil.
Pemakaman ini menjadi momen penting yang mencerminkan hubungan yang rapuh antara Iran dan AS. Masa depan kebijakan luar negeri Iran akan sangat dipengaruhi oleh peristiwa ini, terutama dalam menentukan sikap terhadap negara-negara yang dianggap bertanggung jawab atas kematian pemimpin mereka.



