Upaya Amerika Serikat untuk mengawal kapal-kapal dagang keluar dari Selat Hormuz berakhir jauh dari harapan. Operasi bernama Project Freedom yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump hanya bertahan 48 jam dan baru berhasil mengawal dua kapal.
CNN melaporkan pada Kamis (7/5/2026), sekitar 1.600 kapal dengan puluhan ribu awak masih terjebak di salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia itu, tanpa kepastian jalur aman untuk keluar di tengah ketegangan yang belum mereda.
Meski ada gencatan senjata AS-Iran yang diumumkan, laporan di lapangan menyebutkan serangan rudal masih terjadi di sekitar jalur laut selebar sekitar 21 mil tersebut.
Operasi yang dimulai dengan gegap gempita itu hanya mampu mengawal dua kapal sebelum akhirnya dihentikan. Kapal-kapal lain masih menunggu di perairan, khawatir akan serangan mendadak. Situasi ini menunjukkan betapa rumitnya konflik di kawasan tersebut.
Para analis militer menilai kegagalan ini sebagai pukulan telak bagi kredibilitas AS di Timur Tengah. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dunia, dan ketidakmampuan AS mengamankannya dapat memicu krisis energi global.
Pemerintah Iran belum memberikan komentar resmi, namun sumber di Teheran menyebutkan bahwa keberhasilan mereka menggagalkan operasi AS merupakan bukti kekuatan militer Iran. Sementara itu, negara-negara Teluk mulai mencari alternatif jalur pelayaran untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.



