Yerusalem - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Israel akan tetap bebas bertindak menghadapi ancaman, termasuk yang berasal dari Lebanon. Pernyataan ini disampaikan di tengah pembicaraan kesepakatan damai antara Washington dan Iran.
Percakapan Telepon Netanyahu-Trump
Percakapan telepon antara kedua pemimpin berlangsung pada Minggu, 24 Mei 2026. Saat itu, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan semakin dekat untuk menyepakati sebuah nota kesepahaman terkait perdamaian. Kesepakatan tersebut juga mencakup rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang sempat terganggu akibat konflik sejak Februari.
Posisi Israel
Netanyahu menekankan bahwa Israel tidak akan terikat oleh kesepakatan apa pun yang membatasi kemampuannya untuk mempertahankan diri. Ia menyebut bahwa ancaman dari Lebanon, terutama dari kelompok Hizbullah, memerlukan kewaspadaan dan kebebasan bertindak penuh bagi militer Israel.
Presiden Trump dilaporkan berusaha meredakan kekhawatiran Netanyahu dengan berjanji bahwa kepentingan keamanan Israel akan tetap menjadi prioritas dalam setiap perundingan dengan Iran. Trump juga menegaskan bahwa AS tidak akan mengabaikan program nuklir Iran yang menjadi ancaman utama bagi kawasan.
Implikasi Kesepakatan
Kesepakatan damai antara AS dan Iran diperkirakan akan membawa perubahan signifikan di Timur Tengah. Selain pembukaan Selat Hormuz, kesepakatan ini juga diharapkan dapat mengurangi ketegangan di kawasan. Namun, Israel tetap waspada dan menuntut jaminan keamanan yang kuat sebelum menyetujui langkah-langkah diplomatik lebih lanjut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Iran mengenai isi pembicaraan tersebut. Sementara itu, pengamat internasional menilai bahwa dinamika antara Israel, AS, dan Iran akan terus menjadi sorotan utama dalam politik global.



