Mukjizat di Laut Selayar: Bertahan 4 Hari di Atas Gabus
Mukjizat di Laut Selayar: Bertahan 4 Hari di Atas Gabus

Sitti Amang (47) terapung di laut Selayar selama empat hari tiga malam hanya dengan bertumpu pada selembar gabus rapuh. Di tengah sengatan matahari dan dinginnya malam, ia bertahan berkat eratnya pelukan sang suami, Andi Samad. Peristiwa ini terjadi di perairan barat Pulau Polassi, Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, setelah KM Nurul Salsa tenggelam pada Rabu, 15 Juli 2026.

Detik-Detik Tenggelamnya KM Nurul Salsa

KM Nurul Salsa tiba-tiba kehilangan keseimbangan di tengah laut. Kepanikan melanda saat lambung kapal mulai ditelan ombak. Sitti masih ingat jelas momen ketika ia harus meninggalkan kapal. "Kapal sudah miring waktu saya turun," kenangnya saat ditemui di RSUD KH Hayyung Selayar, Rabu (22/7). Tenggelamnya kapal tersebut memaksa Sitti, Andi, dan belasan penumpang lainnya terombang-ambing tanpa sekoci. Hanya selembar gabus yang menjadi tumpuan sembilan nyawa.

Seleksi Alam di Atas Gabus

Di atas gabus yang rapuh itu, seleksi alam berlangsung kejam. Dari sembilan orang yang awalnya bertahan, hanya lima yang selamat, termasuk Diska Yanti, kerabat mereka. Empat orang lainnya meninggal dunia. "Awalnya kami di atas gabus itu ada sembilan orang. Yang selamat hanya lima orang, termasuk Diska Yanti. Empat orang lainnya meninggal dunia," lirih Sitti.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Bertahan Melawan Lapar, Dingin, dan Keputusasaan

Selama lebih dari 90 jam, mereka tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur. Tenggorokan kering, perut kosong, dan tubuh menggigil menjadi teman setia. "Empat hari kami tidak makan, tidak minum. Tidak pernah tidur, kedinginan terus. Malam menggigil. Mau makan daun yang hanyut, tidak ada," ujar Sitti dengan pandangan menerawang. Namun, ancaman terbesar bukan hanya dari lautan, melainkan dari dirinya sendiri: Sitti tidak bisa berenang.

Peran Suami yang Menyelamatkan

Andi Samad tidak membiarkan istrinya menyerah. Dengan sisa tenaga yang terus terkuras, ia mendekap istrinya dari belakang, memastikan Sitti tidak jatuh ke laut. "Kalau tidak ada suami, mungkin saya sudah jatuh. Saya di bagian depan, suami di belakang terus pegang saya. Karena saya tidak bisa berenang," ungkap Sitti. Dekapan itu menjadi penopang hidupnya selama berhari-hari.

Mengejar Cahaya di Ujung Malam

Setiap malam, ketika melihat kerlip lampu kapal di kejauhan, insting bertahan hidup mereka menyala. Mereka berusaha mendayung gabus mendekati cahaya. "Kalau malam ada cahaya lampu kapal, kami berusaha ke sana. Semua yang masih kuat berusaha menggerakkan gabus supaya mendekat. Cahayanya jauh sekali, tapi kami tetap berusaha ke sana," jelas Sitti. Perjuangan tanpa henti itu akhirnya membuahkan hasil pada Sabtu (18/7), ketika sebuah kapal nelayan melihat lambaian tangan mereka. Sitti, Andi, dan tiga penumpang lainnya ditarik dari laut.

Kondisi Terkini dan Operasi Pencarian

Sitti kini masih terbaring lemah di RSUD KH Hayyung Selayar. Operasi pencarian korban KM Nurul Salsa telah memasuki hari kedelapan. Basarnas mengumumkan perpanjangan operasi selama tiga hari ke depan. Hingga hari kedelapan, dari total 78 orang di atas kapal, 59 orang ditemukan selamat, 3 orang ditemukan meninggal dunia, dan 16 korban lainnya masih dalam pencarian.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga