Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) menyoroti penangkapan sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla oleh tentara Israel. KemenHAM memastikan pemerintah terus memantau perkembangan situasi tersebut.
Pernyataan Staf Khusus Menteri HAM
Staf Khusus Menteri HAM Bidang Transformasi Digital dan Komunikasi Media, Thomas Harming Suwarta, menyampaikan keprihatinan mendalam atas penculikan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) terhadap tujuh WNI, termasuk dua jurnalis Media Republika, pada Senin malam waktu setempat.
"Kedua jurnalis tersebut saat itu sedang berada dalam pelayaran kapal-kapal kemanusiaan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) dalam rangka melaksanakan tugas misi kemanusiaan. Bukan baru kali ini saja mereka ikuti misi ini, tetapi sudah pernah sebelumnya juga," kata Thomas dalam keterangannya, Rabu (20/5/2026).
Upaya Pemerintah Melalui Kemlu
Untuk penanganan kasus penculikan tersebut, Thomas menyampaikan bahwa pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) sedang berupaya keras memastikan pembebasan WNI beserta awak misi kemanusiaan yang ditahan. Kemlu telah berupaya menghubungi KBRI di Ankara, Kairo, hingga Amman.
"Kami mendapat informasi bahwa pihak otoritas diplomatik Indonesia telah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman. Langkah antisipatif ini diambil guna menjamin keselamatan serta mempercepat proses pemulangan para WNI yang terlibat dalam misi tersebut," jelas Thomas.
Ia pun memastikan pemerintah akan terus memantau peristiwa ini melalui komunikasi intensif dengan berbagai pihak terkait demi memperoleh informasi terkini mengenai kondisi WNI tersebut. "Kita tentu terus melakukan pemantauan dari waktu ke waktu untuk memastikan kondisi WNI kita dalam keadaan selamat dan bisa segera dibebaskan," pungkas Stafsus Thomas.
Konfirmasi Kemlu: Total Sembilan WNI Ditahan
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengonfirmasi bahwa jumlah WNI yang ditangkap oleh tentara Israel bertambah dua orang. Dengan demikian, total ada sembilan WNI dalam misi kemanusiaan ke Gaza, Palestina, yang diculik oleh pasukan Israel.
"Betul," kata Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kemlu RI, Heni Hamidah, saat dikonfirmasi, Rabu (20/5/2026). Heni menjawab soal sembilan WNI diculik Israel.
Informasi dari Global Peace Convoy Indonesia
Informasi ini mulanya disampaikan oleh Global Peace Convoy Indonesia (GPCI). Mereka mengungkap ada dua WNI di Kapal Kars-1 Sadabat yang diculik Israel. "Update Asad dan Hendro, konfirmasi intersep kapal Kasr-1 Sadabat. Total sembilan WNI diculik Israel," kata Koordinator Media GPCI Harfin Naqsyabandy kepada wartawan, Rabu (20/5/2026).
Harfin menjelaskan, kedua WNI adalah Asad Aras Muhammad, relawan Spirit of Aqso, dan Hendro Prasetyo, relawan SMART 71. Keduanya diketahui telah ditahan oleh Israel. "Pantauan command center GSF di Turki," jelasnya.
Harfin mengatakan, pesan SOS dari Hendro dan Aras sudah keluar. Maka, semua WNI dalam perjalanan misi kemanusiaan Sumud Flotilla 2026 telah diculik.
Daftar Sembilan WNI yang Diculik
Berikut sembilan WNI yang diculik tentara Israel berdasarkan laporan GPCI:
- Herman Budianto Sudarsono (GPCI - Dompet Dhuafa) - Kapal Zapyro
- Ronggo Wirasanu (GPCI - Dompet Dhuafa) - Kapal Zapyro
- Andi Angga Prasadewa (GPCI - Rumah Zakat) - Kapal Josef
- Asad Aras Muhammad (GPCI - Spirit of Aqso) - Kapal Kasr-1
- Hendro Prasetyo (GPCI - SMART 171) - Kapal Kasr-1
- Bambang Noroyono (REPUBLIKA) - Kapal BoraLize
- Thoudy Badai Rifan Billah (REPUBLIKA) - Kapal Ozgurluk
- Andre Prasetyo Nugroho (Tempo) - Kapal Ozgurluk
- Rahendro Herubowo (Tim Media GPCI dan iNews) - Kapal Ozgurluk



