Kapal Tanker Diserang di Selat Hormuz, Gencatan Senjata Runtuh
Kapal Tanker Diserang di Selat Hormuz, Gencatan Senjata Runtuh

Selat Hormuz kembali menjadi titik panas. Sebuah kapal tanker dilaporkan terkena tembakan proyektil di jalur perdagangan laut vital tersebut pada Sabtu (27/6/2026), menghancurkan harapan perdamaian yang baru terjalin antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Eskalasi Terburuk Sejak Perjanjian Damai Sementara

Insiden ini merupakan pelanggaran paling serius sejak kedua negara menandatangani perjanjian damai sementara dua minggu lalu. Perjanjian tersebut dirancang untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat bulan terakhir. Namun, serangan terhadap kapal tanker itu kini memicu saling tuduh antara kedua belah pihak.

Menurut laporan yang beredar, proyektil tersebut menghantam bagian lambung kapal, menyebabkan kerusakan namun tidak menimbulkan korban jiwa. Rute pelayaran di Selat Hormuz, yang menangani sekitar 20% pasokan minyak dunia, sempat terganggu selama beberapa jam.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Saling Tuduh Pelanggaran Gencatan Senjata

Baik AS maupun Iran langsung mengeluarkan pernyataan resmi. Pemerintah AS menuding Iran sebagai dalang di balik serangan itu, sementara Iran membantah dan justru menuduh AS sengaja memprovokasi untuk merusak kesepakatan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan, "Tuduhan AS tidak berdasar dan merupakan upaya untuk mengalihkan perhatian dari pelanggaran mereka sendiri."

Di sisi lain, seorang pejabat Pentagon yang enggan disebut namanya mengatakan, "Kami memiliki bukti kuat bahwa proyektil tersebut diluncurkan dari wilayah yang dikuasai Iran. Ini adalah pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata."

Dampak terhadap Stabilitas Regional dan Pasar Minyak

Serangan ini langsung memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala penuh. Para analis memperkirakan harga minyak mentah akan melonjak tajam jika situasi tidak segera mereda. Selat Hormuz merupakan jalur kritis bagi pasokan energi global, dan setiap gangguan di sana berpotensi mengguncang perekonomian dunia.

Dewan Keamanan PBB dilaporkan akan menggelar sidang darurat dalam waktu 24 jam ke depan untuk membahas eskalasi ini. Sementara itu, negara-negara tetangga seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga