Muhammad Risky Pratama (12), seorang bocah penjual ikan keliling asal Bagan Deli, Medan, kini bersekolah di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan. Setahun lalu, ia mengayuh sepeda puluhan kilometer setiap hari membawa ikan segar untuk dijual demi membantu keluarganya. "Kadang (sehari) Rp 30 ribu dapatnya. Paling banyak dikasih Rp 90 ribu kalau habis semua," kata Risky saat menceritakan pengalamannya.
Perjuangan Hidup Risky
Risky adalah anak sulung dari empat bersaudara. Sejak kelas 4 SD, ia diasuh oleh kakeknya, Salamuddin (63), dan neneknya, Masitah (55), di Medan. Ibunya merantau bekerja di luar daerah, sementara ayahnya telah berkeluarga lagi dan jarang bertemu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, keluarga itu mengandalkan penghasilan Salamuddin yang mencari kerang di laut. Namun, pendapatannya tidak menentu, berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per hari, tergantung cuaca. Dengan penghasilan tersebut, Salamuddin kesulitan memenuhi kebutuhan 13 anggota keluarga yang menjadi tanggungannya, termasuk biaya sekolah Risky.
Kondisi ekonomi yang terbatas mendorong Risky untuk berjualan ikan sejak kelas 6 SD. Keputusan itu murni keinginannya sendiri. "Hasil jualan dibagi nenek, habis itu nenek beli beras dan pampers adik," cerita Risky.
Harapan Baru di Sekolah Rakyat
Melalui program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto, Risky kini dapat mengenyam pendidikan. Masitah mengaku sangat bersyukur. "Dulu saya menangis, kenapa? Karena saya tak akan mampu menyekolahkan dia. Karena dia bilang, cita-cita awak ini nek, apa bisa awak sekolah, nah itu saya menangis memang. Tapi kalau sekarang ini saya menangis, tapi menangis bahagia," ungkapnya.
Sejak bersekolah di Sekolah Rakyat, Risky menunjukkan banyak perubahan. "Bukan lagi ada perubahan, jauh kali, bilangkan jauh kali lah. Perhatiannya kalau pulang jauh lah dia, tidak sebelumnya dulu mau melalak (keluyuran), kalau sekarang melalak arahnya ke musala sana atau masjid," ujar Masitah.
Dukungan Kakek dan Rindu Ibu
Salamuddin, kakek Risky, mengatakan bahwa Risky adalah pribadi yang penuh inisiatif. "Kalau penghasilan lumayan juga, cuma kan kita kan sayang sekolahnya, enggak bisa sekolah itu aja, maka kami kerahkan ini supaya kami semangatkan dia untuk sekolah, ini supaya dia terdidik, menjadi orang," tuturnya.
Risky mengaku rindu dengan ibunya yang jarang bertemu sejak kelas 4 SD. Komunikasi hanya melalui telepon seluler dengan intensitas jarang. "Kangen (mamak) mau jumpa kaya dulu, dulunya mamak nyuruh nyuci piring, sekarang nggak lagi, dulunya mamak nyuruh jaga adik, sekarang nggak lagi," kata Risky berkaca-kaca.
Mimpi Menjadi Tentara
Di Sekolah Rakyat, Risky tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan keterampilan. Ia senang dengan fasilitas yang ada. "Dulu saya enggak pandai baca pak, jadi saya pandai diajarin guru, wali asuh, wali asrama pak. Nggak pandai niat salat, niat wudhu, bisa pandai pak," imbuhnya. Risky bercita-cita menjadi tentara dan berharap bisa segera bertemu ibunya. "Mamak biar bagus-bagus kerjanya, jangan terpikir kami dulu, kalau mamak terpikir, jadi mamak nggak terlalu konsen bekerja. Terimakasih mamak sudah menjaga kami dari kecil," ungkap Risky haru.



