Sejumlah Sekolah Dasar (SD) Negeri di berbagai wilayah Indonesia menghadapi krisis siswa baru pada tahun 2026. Di Kota Yogyakarta, sekitar 1.000 kursi kelas 1 tidak terisi karena kurang diminati warga. Dari total kapasitas 3.600 hingga 3.700 kursi di seluruh SD Negeri, realisasi pendaftaran hanya mencapai 2.500 hingga 2.700 siswa.
Kondisi di Berbagai Wilayah
Fenomena serupa terjadi di Gunung Kidul dan Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Mataram, Nusa Tenggara Barat, empat SD Negeri terpaksa merger atau menggabung, sementara satu SDN ditutup total akibat kekurangan siswa. Masalah ini juga melanda Boyolali, Malang, dan Magelang, di mana 12 SD Negeri dilaporkan kekurangan murid.
Dampak dan Langkah ke Depan
Krisis siswa baru ini menimbulkan kekhawatiran akan keberlangsungan operasional sekolah. Pemerintah daerah setempat diharapkan segera mengambil langkah strategis, seperti merger sekolah, redistribusi guru, atau optimalisasi penerimaan siswa dari luar zona. Menurut data Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, penurunan jumlah siswa disebabkan oleh rendahnya minat orang tua terhadap SD Negeri, serta persaingan dengan sekolah swasta dan alternatif pendidikan lainnya.



