Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat menghentikan apa yang mereka sebut sebagai tindakan agresi terhadap Iran. Pernyataan ini disampaikan pada Rabu (15/7/2026), sekaligus memperingatkan bahwa jalur ekspor minyak lain di kawasan Timur Tengah berpotensi menjadi sasaran apabila konflik terus berlanjut.
Konflik Mengganggu Pasokan Energi Global
Konflik antara AS dan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari telah mengganggu pasokan energi global melalui Selat Hormuz. Selat ini merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas dunia. IRGC menyatakan pihaknya telah melancarkan serangan terhadap fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai respons atas serangan AS ke wilayah Iran.
Ancaman Penutupan Berkelanjutan
Dalam pernyataannya, IRGC tidak memberikan batas waktu kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali. Mereka menekankan bahwa penutupan akan terus berlangsung hingga tuntutan Iran dipenuhi. Langkah ini berpotensi memicu kenaikan harga minyak global dan mengganggu stabilitas ekonomi di berbagai negara yang bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.



