Iran Ancam Jadikan Teluk Oman Kuburan Kapal AS Jika Blokade Tak Dihentikan
Iran Ancam Teluk Oman Jadi Kuburan Kapal AS

Teheran - Iran mengeluarkan ancaman keras terhadap Amerika Serikat terkait blokade laut yang diberlakukan di perairan Teluk. Pemerintah Iran menyatakan akan mengubah Teluk Oman, yang terletak di dekat Selat Hormuz, menjadi "kuburan" bagi kapal-kapal Amerika Serikat jika blokade tersebut tidak segera diakhiri. Ancaman ini disampaikan oleh penasihat militer utama untuk pemimpin tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, yang juga merupakan anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran.

Pernyataan Keras dari Teheran

Dalam pernyataannya yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran pada Minggu (17/5/2026), Rezaei menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam terhadap blokade laut yang diberlakukan oleh Washington. "Saran saya kepada AS secara militer adalah mundur sebelum Teluk Oman berubah menjadi kuburan bagi kapal-kapal Anda," ujar Rezaei. Ia menambahkan bahwa blokade laut merupakan tindakan perang dan Iran memiliki hak alami untuk menanggapinya.

Rezaei juga menekankan bahwa sikap menahan diri yang ditunjukkan Iran selama ini tidak boleh diartikan sebagai penerimaan terhadap tekanan atau ancaman. "Jika kami telah bersabar sampai sekarang, itu tidak berarti kami telah menerimanya," tegasnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pertanyaan tentang Kehadiran Militer AS

Dalam kesempatan tersebut, Rezaei mempertanyakan alasan di balik keberadaan militer AS yang berkelanjutan di kawasan Teluk. Ia berargumen bahwa Washington tidak lagi memiliki pembenaran yang pernah digunakan untuk mempertahankan perannya di kawasan tersebut. "Amerika datang ke sini dan membawa kapal perangnya. Siapa musuhnya? Dulu, mereka mengatakan datang untuk menghadapi Uni Soviet. Uni Soviet sudah tidak ada lagi," ucapnya.

Rezaei menegaskan bahwa Selat Hormuz selalu terbuka untuk perdagangan internasional. Yang ditolak oleh Iran adalah operasi militer asing, bukan pergerakan komersial di jalur perairan strategis tersebut. "Selat Hormuz terbuka untuk perdagangan, tetapi akan ditutup untuk pengerahan kekuatan militer dan upaya-upaya apa pun untuk menggoyahkan keamanan," tegasnya.

Latar Belakang Ketegangan

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat secara signifikan sejak AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Iran membalas serangan tersebut dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer AS. Situasi semakin memanas ketika Iran secara efektif membatasi aktivitas perlintasan di Selat Hormuz selama perang berkecamuk.

Sebagai respons, AS memberlakukan blokade angkatan laut sejak 13 April lalu yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz. Blokade ini bertujuan untuk menekan Iran agar menghentikan aktivitas militernya di kawasan tersebut.

Gencatan Senjata dan Perundingan Damai

Gencatan senjata yang menangguhkan pertempuran diberlakukan sejak 8 April lalu melalui mediasi Pakistan. Namun, perundingan damai yang mengikutinya gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen. Gencatan senjata kemudian diperpanjang secara sepihak oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditentukan. Meskipun demikian, Trump menegaskan bahwa blokade laut AS tetap diberlakukan.

Ancaman Iran ini menambah ketegangan di kawasan yang sudah sangat rawan. Dunia internasional kini menanti langkah selanjutnya dari kedua belah pihak, apakah akan terjadi eskalasi lebih lanjut atau justru menemukan jalan damai.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga