Kisah Nenek Pencari Ubi Tabung 20 Tahun di Ember untuk Naik Haji
Nenek Pencari Ubi Tabung 20 Tahun di Ember untuk Haji

Di bawah terik matahari Makkah, Jumariah berulang kali mengusap wajahnya dengan ujung kerudung hitam. Jantung perempuan lanjut usia itu berdebar kencang saat melangkah masuk pelataran Masjidil Haram, Minggu (10/5). Momen magis itu akhirnya tiba. Air matanya tumpah berlinang ketika bangunan kubus berbalut kiswah hitam megah berdiri tepat di depan matanya.

Perjuangan Hidup Sebatang Kara

Jumariah adalah jemaah haji lansia asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ingatannya tak lagi tajam untuk merinci angka pasti usianya, ia hanya mengingat dirinya kini berusia sekitar 70-an tahun. Di kampung halaman, Jumariah hidup sebatang kara. Setiap pagi usai fajar, ia memberi makan ayam, membersihkan rumah panggung, dan memasak sarapan untuk dirinya sendiri. Pada pukul 9 pagi, ia mulai menguji fisiknya. Bermodal sabit, ia merawat kebun ubi milik tetangga, lalu berjalan 50 meter menuju sawah miliknya seluas 15 are untuk menyiangi padi.

"Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri. Dulu pakai sabit, kalau sekarang sudah dibantu mesin," kenangnya seraya tersenyum.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menabung dalam Ember Selama 20 Tahun

Jumariah tidak bisa membaca maupun menulis. Ia tak pernah mengenyam bangku sekolah. Namun, ketidakberdayaan itu kalah oleh keteguhan niatnya yang dimulai 20 tahun lalu. Secara sembunyi-sembunyi, ia mengumpulkan uang hasil keringatnya di dalam sebuah ember di rumah. "Saya kumpul uangku sedikit-sedikit di ember," tuturnya polos. "Kalau saya dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu."

Pada tahun 2011, setelah isi embernya mencapai Rp25 juta, ia memberanikan diri mendaftar haji, dituntun oleh kemenakan jauhnya. Sejak hari pendaftaran, ritme menabungnya kian menggila demi melunasi sisa biaya pelunasan. Ketika namanya resmi tercantum sebagai jemaah yang berangkat pada musim haji 2026, semangatnya meledak. Jarak 15 kilometer dari rumah menuju lokasi manasik tak dipedulikannya. Lebih dari 80 kali sesi manasik yang digelar Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) ia lahap tanpa absen. Jumariah selalu duduk di barisan paling depan, menyimak setiap arahan muthawwif.

Menjadi Ikon Promosi Haji Arab Saudi

Kisah perjuangan Jumariah telah diangkat ke dalam dokumenter. Kegigihan sang nenek mengetuk pintu perhatian Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Maros. Profilnya yang luar biasa diajukan ke Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi sebagai pemeran dalam video dokumenter "Makkah Route". "Pertimbangannya karena kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, tinggal di daerah terpencil, namun sangat menginspirasi," ungkap Sitti Hawaisyah, Ketua Kloter UPG-14.

Hanya butuh waktu empat jam bagi tim dokumenter untuk merekam kehidupan bersahaja Jumariah di Maros. Video singkat tentang nenek pencari ubi ini kini bertransformasi menjadi materi promosi internasional Kerajaan Arab Saudi untuk menyambut musim Haji 2026. Jumariah pun kini telah menjadi ikon. Kini, langkah kakinya bersiap menuju rute terakhir penantian panjangnya: wukuf di Padang Arafah. Kurang dari sepuluh hari lagi, di bawah hamparan langit Arafah, janda sebatang kara ini akan berdialog langsung dengan Tuhannya, menuntaskan kerinduan yang selama puluhan tahun terkunci rapat di dalam sebuah ember tabungan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga