Pasukan Israel atau IDF melakukan penjarahan di sejumlah titik di Lebanon bagian selatan dalam konflik Timur Tengah yang berlangsung. Namun, IDF melarang keras aksi penjarahan terhadap properti milik warga Lebanon. Surat kabar Israel, Haaretz, melaporkan bahwa pasukan Israel di Lebanon selatan telah menjarah sejumlah besar properti sipil, mengutip kesaksian dari pasukan dan komandan Israel di lapangan.
Rekaman Penjarahan dan Perusakan
Rekaman muncul di media sosial yang menunjukkan tentara Israel saling merekam sambil bercanda saat merusak properti di dalam rumah warga di wilayah yang tampaknya berada di Lebanon selatan. Gambar lain menunjukkan seorang tentara menggunakan palu godam untuk menghancurkan patung di Lebanon selatan. Insiden ini memicu kecaman dan peringatan keras dari pimpinan militer Israel.
Peringatan Keras Kepala Staf IDF
Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengeluarkan peringatan keras kepada pasukan Israel tentang penjarahan. "Fenomena penjarahan, jika memang ada, sangat memalukan dan berisiko mencoreng nama IDF secara keseluruhan. Jika insiden seperti itu terjadi, kami akan menyelidikinya," katanya dalam pernyataan yang dilansir AFP, Selasa (28/4/2026). Militer Israel pekan lalu mengatakan dua tentara akan menerima hukuman penahanan militer selama 30 hari dan dikeluarkan dari tugas tempur atas insiden pengrusakan patung Yesus tersebut.
Zamir memperingatkan, "Wajib militer dan cadangan IDF tidak boleh menggunakan jejaring sosial sebagai alat untuk menyebarkan pesan kontroversial dan untuk promosi diri. Ini adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar. Mereka yang melanggar akan menghadapi tindakan disiplin." Ia menambahkan, "Normalisasi perilaku seperti itu bisa sama berbahayanya dengan ancaman operasional."
Dampak Gencatan Senjata dan Kepulangan Warga
Meski mengalami kerusakan akibat serangan, Jembatan Qasmiyeh di Lebanon selatan kini menjadi jalur utama bagi warga yang kembali ke kampung halaman mereka. Arus kepulangan mulai terlihat setelah gencatan senjata selama 10 hari diberlakukan, memberikan harapan baru bagi ribuan warga yang sebelumnya mengungsi. Dalam pernyataan terpisah kepada AFP, militer Israel mengatakan mereka memandang "segala kerusakan terhadap properti sipil, serta tindakan penjarahan, dengan sangat serius dan melarang keras perilaku tersebut." Tuduhan perilaku semacam itu "diperiksa secara menyeluruh" dan jika terbukti, "tindakan disiplin dan pidana" akan diambil, "termasuk penuntutan."
Ancaman Israel terhadap Lebanon
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengancam Lebanon dengan "api yang akan membakar seluruh negeri", saat gencatan senjata diwarnai tuduhan pelanggaran oleh Israel dan Hizbullah. Katz menyebut pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, sedang "bermain api". Ancaman itu dilontarkan dua hari setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan eskalasi militer terhadap Beirut. "Naim Qassem sedang bermain api, dan api itu akan membakar Hizbullah dan seluruh Lebanon," tegas Katz dalam pertemuan dengan Utusan PBB untuk Lebanon, Jeanine Hennis-Plasschaert.
Katz mengklaim pemerintah Lebanon "terus berlindung" di bawah sayap Hizbullah. "Api akan berkobar dan melahap pohon-pohon cedar Lebanon," kata Katz memperingatkan. Ia menuduh Presiden Lebanon Joseph Aoun "mempertaruhkan masa depan Lebanon". Katz menegaskan bahwa Israel tidak akan menerima situasi di mana gencatan senjata di Lebanon berdampingan dengan serangan berkelanjutan oleh Hizbullah terhadap pasukan Israel di Lebanon selatan dan wilayah Israel utara. Menhan Israel itu mengatakan bahwa dirinya dan Netanyahu telah menginstruksikan pasukan Israel untuk "merespons dengan tembakan dahsyat terhadap Hizbullah jika terjadi kerusakan, ancaman, atau pelanggaran kedaulatan Israel."
Sementara itu, Aoun mengatakan bahwa gencatan senjata antara Lebanon dan Israel merupakan "langkah pertama dan penting" untuk negosiasi selanjutnya dengan Tel Aviv. Posisi ini telah disampaikan kepada Amerika Serikat yang menengahi negosiasi Beirut dan Tel Aviv.



