Jumlah personel Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) yang gugur akibat serangan terus bertambah. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, tercatat enam orang anggota pasukan perdamaian meninggal dunia di Lebanon.
Empat Prajurit TNI Gugur
Empat prajurit TNI gugur dalam menjalankan misi perdamaian di Lebanon selatan. Korban terakhir adalah Praka Rico Pramudia (31), yang meninggal dunia setelah dirawat akibat luka parah yang dideritanya dalam serangan pada akhir Maret lalu.
UNIFIL menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga Praka Rico, TNI, serta Pemerintah dan rakyat Indonesia. Mereka menyesalkan kepergiannya yang terluka parah akibat ledakan proyektil di pangkalan tugasnya di Adchit Al Qusayr pada malam 29 Maret.
Sehari setelah insiden tersebut, pada Senin 30 Maret, PBB mengonfirmasi dua prajurit TNI lainnya meninggal dunia akibat ledakan yang menghantam konvoi logistik UNIFIL di Bani Hayyan, Lebanon selatan.
Berikut daftar empat prajurit TNI yang gugur:
- Praka Farizal Rhomadhon
- Praka Rico Pramudia
- Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar
- Sertu Muhammad Nur Ikhwan
Selain yang gugur, empat prajurit TNI lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tersebut, yaitu Praka Bayu Prakoso, Praka Arif Kurniawan, serta dua personel lain yang terluka akibat ledakan konvoi logistik.
Dua Tentara Prancis Gugur
Tidak hanya dari Indonesia, dua tentara Prancis yang tergabung dalam UNIFIL juga gugur. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan bahwa seorang tentara Prancis kedua meninggal dunia pada Rabu 22 April akibat luka yang dideritanya dalam penyergapan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon, yang dituduhkan kepada Hizbullah.
Serangan terjadi pada Sabtu 18 April. Tentara Prancis pertama yang gugur adalah Florian Montorio, yang tewas di tempat. Beberapa hari kemudian, tentara Prancis lainnya yang terluka dalam serangan yang sama akhirnya meninggal dunia.
PBB Desak Penghentian Serangan
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan duka cita atas gugurnya Praka Rico Pramudia dan mendesak Israel untuk menghentikan serangan. Ia menegaskan bahwa enam personel UNIFIL kini telah tewas dan beberapa lainnya luka serius akibat insiden di tengah permusuhan antara Hizbullah dan Pasukan Pertahanan Israel.
UNIFIL sebelumnya menyatakan bahwa serangan yang disengaja terhadap penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan Resolusi Dewan Keamanan 1701, dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.



