Drone Kamikaze Iran Targetkan Aset Militer AS di Yordania dan Bahrain
Drone Iran Serang Aset AS di Yordania dan Bahrain

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah militer Iran melancarkan serangan drone bunuh diri (kamikaze) terhadap aset militer AS di Yordania. Serangan pada Kamis (16/7/2026) ini merupakan respons langsung terhadap gelombang serangan terbaru AS di Iran.

Serangan Drone Iran di Yordania

Televisi pemerintah Iran, IRIB, melaporkan bahwa Tentara Republik Islam Iran menargetkan sistem komunikasi dan fasilitas penyimpanan bahan bakar militer AS di Yordania menggunakan drone kamikaze. "Sebagai tanggapan terhadap agresi musuh, mereka menargetkan sistem komunikasi dan fasilitas penyimpanan bahan bakar militer AS di Yordania dengan menggunakan drone bunuh diri," demikian pernyataan resmi militer Iran seperti dikutip AFP. Hingga saat ini belum ada keterangan resmi mengenai kerusakan atau korban jiwa akibat serangan tersebut.

Gelombang Serangan Terbaru AS di Iran

Sebelumnya, pada Rabu (15/7) malam waktu setempat, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan telah menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap Iran pada pukul 21.00 waktu Washington (01.00 GMT Kamis). Dalam pernyataan di media sosial X, CENTCOM menyebutkan bahwa serangan menargetkan beberapa lokasi, termasuk Bandar Abbas yang merupakan pelabuhan terbesar Iran serta fasilitas utama angkatan laut dan Garda Revolusi di Selat Hormuz. "Pasukan Amerika menyerang situs pertahanan pantai dan rudal jelajah di Pulau Tunb Raya selama gelombang serangan 90 menit," tambah militer AS.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ancaman Iran Terhadap Infrastruktur Regional

Militer Iran mengancam akan menghancurkan seluruh infrastruktur di kawasan Timur Tengah jika infrastruktur Iran diserang. Ancaman ini disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memperluas serangan ke infrastruktur sipil Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Juru bicara Markas Besar Militer Pusat Khatam al-Anbiya, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari, menyatakan, "Jika ancaman kosong baru-baru ini oleh presiden AS agar militer Amerika menyerang infrastruktur Republik Islam benar-benar dilaksanakan, maka semua yang, karena pengendalian diri Iran, selama ini tetap utuh — yakni, semua infrastruktur di seluruh wilayah — akan hancur di bawah serangan keras angkatan bersenjata Republik Islam yang kuat, sedemikian rupa sehingga tidak akan ada jejaknya yang tersisa, seolah-olah tidak pernah ada."

Zolfaqari juga menekankan bahwa Iran tidak akan mengizinkan AS campur tangan di Selat Hormuz, yang disebut sebagai "garis merah yang tak dapat dilanggar". "Biarkan musuh yang bodoh itu tahu: bagi kami, momen aksi epik bukanlah momen untuk menahan diri. Apa yang dilakukan oleh angkatan bersenjata Iran bukanlah serangan yang setara; itu adalah serangan yang lebih unggul. Serangan akan lebih intens, luas, dan destruktif daripada sebelumnya. Kemarahan bangsa yang tidak pernah menyerah akan membakar agresor," tegasnya.

Serangan Garda Revolusi di Bahrain

Dalam perkembangan terpisah, Departemen Hubungan Masyarakat di Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bahwa Angkatan Laut pasukan tersebut telah melakukan "serangan dahsyat terhadap pangkalan AS di Sheikh Isa, Bahrain". Operasi tersebut dilaporkan berhasil menghancurkan sistem radar pengawasan dan kontrol udara serta stasiun pompa bahan bakar yang memasok pesawat tempur musuh.

Konflik berkepanjangan ini menunjukkan eskalasi signifikan di Timur Tengah, dengan kedua belah pihak saling melancarkan serangan dan ancaman yang berpotensi melibatkan infrastruktur sipil dan militer di seluruh kawasan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga