Dalam rapat darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang membahas kelompok Houthi, China melontarkan tuduhan keras terhadap Amerika Serikat (AS). Beijing menuduh Washington telah menyeret kawasan Timur Tengah ke "tepi jurang yang berbahaya" dengan mengobarkan perang melawan Iran. Tuduhan ini disampaikan saat terjadi cekcok sengit antara kedua negara adidaya dalam forum internasional tersebut, seperti dilansir AFP dan Al Arabiya pada Rabu (15/7/2026).
Latar Belakang Memanasnya Konflik
Situasi di Timur Tengah semakin panas setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman kembali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi. Serangan ini meruntuhkan gencatan senjata informal yang telah memberikan ketenangan di kawasan tersebut selama empat tahun terakhir. Eskalasi konflik Houthi-Saudi ini memperburuk ketegangan yang sudah ada, terutama di tengah konflik antara AS dan Israel melawan Iran dalam beberapa bulan terakhir. Gencatan senjata rapuh antara Washington dan Teheran pun kolaps, dengan kedua negara kembali saling serang dalam beberapa hari terakhir.
Tuduhan China terhadap AS
Utusan diplomatik China untuk PBB, Sun Lei, dalam pernyataannya menegaskan bahwa AS memikul tanggung jawab yang tidak terbantahkan atas situasi di Yaman dan Laut Merah. "AS-lah yang menghambat upaya Dewan (Keamanan PBB) untuk mengakhiri permusuhan, serta membiarkan krisis di Gaza terus berlanjut dan ketegangan meluas," cetus Sun. Ia juga menambahkan, "Tanpa mandat dari Dewan Keamanan, dan di tengah berlangsungnya negosiasi antara AS dan Iran, AS melancarkan serangan militer terhadap Iran, yang sekali lagi menyeret situasi di kawasan tersebut ke tepi jurang yang berbahaya."
Kritik AS terhadap China
Pernyataan Sun itu merupakan respons atas kritikan yang dilontarkan Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz. Waltz menuduh China melanggar embargo senjata PBB yang diberlakukan terhadap Houthi. "Negara-negara seperti Iran dan, sampai tingkat tertentu, perusahaan dan entitas di China telah melanggar Resolusi 2216 tanpa banyak menerima konsekuensi," sebut Waltz. Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 2216, yang disahkan pada tahun 2015, mewajibkan Houthi untuk menghentikan permusuhan dan menarik diri dari wilayah-wilayah yang mereka kuasai di Yaman. Resolusi tersebut juga menetapkan embargo senjata yang secara terarah terhadap Houthi, serta menjatuhkan sanksi terhadap individu-individu, termasuk pembekuan aset dan larangan bepergian.
Seruan China untuk Refleksi
Dalam perdebatan sengit antara kedua negara adidaya tersebut, utusan China menegaskan bahwa AS "seharusnya merefleksikan tindakannya sendiri dan mengambil langkah-langkah konkret untuk menghapus dampak negatif dari tindakan dan retorikanya". Pernyataan ini menekankan bahwa China meminta AS untuk bertanggung jawab atas eskalasi konflik di kawasan. Sementara itu, situasi di Timur Tengah terus memanas dengan serangan rudal Houthi ke Arab Saudi dan ketegangan antara Garda Revolusi Iran dengan pasukan AS di Selat Hormuz.



