Pada 30 November 1957, Presiden Sukarno selamat dari upaya pembunuhan dengan granat di Perguruan Cikini, Jakarta. Tujuh orang tewas, sebagian besar anak-anak, dan puluhan lainnya luka-luka. Pelaku dari Gerakan Anti-Komunis (GAK) ingin memperingatkan pemerintah agar mengubah haluan politik terkait PKI.
Malam Berdarah di Cikini Raya 76
Malam itu, Perguruan Cikini merayakan ulang tahun ke-15 yayasannya dengan bazar dan malam amal. Presiden Sukarno hadir sebagai orang tua murid karena anak-anaknya bersekolah di sana. Setelah berkeliling, beliau dikerumuni anak-anak yang ingin bersalaman. Tiba-tiba, enam granat dilemparkan dari kegelapan. Ledakan mengguncang halaman, menewaskan tujuh orang termasuk dua pengawal presiden, dan melukai banyak lainnya. Bung Karno selamat berkat evakuasi cepat ajudan.
Pelaku dan Motif
Dalam tiga hari, polisi menangkap empat pelaku: Jusuf Ismail, Sa'adon bin Mohamad, Tasrif bin Hoesain, dan Mohamad Tasim. Mereka adalah guru dan pemuda lokal yang tergabung dalam GAK. Motifnya bukan membunuh Sukarno, melainkan memprotes kebangkitan PKI pasca-Pemilu 1955. Tiga pelaku dihukum mati pada 1960, satu dipenjara 20 tahun.
Kenangan Abadi
Kini, Perguruan Cikini tetap berdiri dengan arsitektur kolonial yang dipertahankan. Monumen kecil yang pernah ada telah dicabut untuk menjaga psikologis warga. Namun, tragedi ini dikenang sebagai peristiwa kelam yang nyaris merenggut nyawa proklamator.



