Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali memanas setelah saling melontarkan ancaman. Ketegangan ini dimulai ketika Houthi pada Jumat (3/7) mengancam akan menargetkan bandara-bandara Saudi dan aset-aset vital jika Saudi melanggar wilayah udaranya atau mencoba menyerang. Ancaman tersebut disampaikan setelah Houthi menuduh Saudi mencoba menghalangi pesawat Iran yang membawa pasien dan delegasi Houthi untuk menghadiri pemakaman pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Ancaman Houthi dan Respons Saudi
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, dalam pernyataan video mengatakan: "Kami memperingatkan musuh kriminal Saudi agar tidak mengulangi upaya apa pun untuk melanggar wilayah udara kami atau agresi apa pun yang menargetkan negara kami. Tindakan seperti itu akan dibalas dengan respons komprehensif yang menargetkan bandara-bandara dan kepentingan vitalnya di darat dan laut." Saree juga mengklaim bahwa pasukannya telah menggunakan rudal pertahanan udara untuk mencegah pesawat tempur Saudi menghalangi pesawat sipil Iran mendarat di Bandara Internasional Sanaa. Pesawat itu membawa lebih dari 200 pasien bersama delegasi Houthi yang bepergian ke Teheran.
Menanggapi ancaman tersebut, juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, menyebut pernyataan Houthi sebagai upaya pengalihan perhatian. "Pernyataan Houthi terhadap Kerajaan kemarin hanyalah upaya untuk mengalihkan perhatian dari pelanggaran berat mereka terhadap rakyat Yaman, di mana mereka mencoba mengekspor bencana ekonomi dan penderitaan Yaman yang telah mereka sebabkan," ujar al-Malki dalam pernyataan pada Sabtu (4/7). Ia menambahkan bahwa pernyataan Houthi adalah "perpanjangan dari eskalasi dan perilaku bermusuhan yang ditunjukkan oleh milisi Houthi dan upaya mereka untuk merusak keamanan regional dan internasional." Al-Malki berjanji akan memberikan respons "dengan tekad dan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap setiap upaya untuk menargetkan Kerajaan, warga negara dan penduduknya, serta aset nasional, atau setiap upaya untuk melanggar kedaulatan Republik Yaman."
Latar Belakang Konflik Yaman
Houthi telah berperang dengan pemerintah Yaman sejak 2015. Konflik ini telah menewaskan ratusan ribu orang dan memicu krisis kemanusiaan besar. Pemberontak Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara, termasuk pusat populasi. Sementara pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, didukung oleh koalisi pimpinan Saudi, menguasai sebagian besar wilayah selatan. Pertempuran sebagian besar telah berhenti sejak gencatan senjata yang dinegosiasikan PBB pada tahun 2022. Namun, ketegangan terbaru ini mengancam gencatan senjata yang rapuh.
Ketegangan ini juga terkait dengan situasi di Iran pasca wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Houthi, yang didukung Iran, mengirim delegasi ke Teheran untuk menghadiri pemakaman, dan insiden penghalangan pesawat oleh Saudi memicu kemarahan mereka. Saudi, di sisi lain, melihat Houthi sebagai ancaman keamanan regional dan berkomitmen untuk melindungi kedaulatannya.
Dampak dan Implikasi
Ancaman ini meningkatkan risiko eskalasi militer di Yaman dan sekitarnya. Masyarakat internasional, termasuk PBB, mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan menghormati gencatan senjata. Namun, dengan saling tuduh dan ancaman, situasi tetap tegang. Warga Yaman, yang sudah menderita akibat perang, kembali dihadapkan pada ketidakpastian. Krisis kemanusiaan di Yaman, yang merupakan salah satu yang terburuk di dunia, bisa semakin memburuk jika konflik kembali meletus.



