Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban penangkapan Israel akhirnya tiba di Tanah Air setelah melewati jalan panjang. Mereka adalah relawan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) yang dicegat pasukan Israel saat berlayar menuju Gaza, Palestina.
Kronologi Penangkapan
Penangkapan berawal saat pasukan Israel mencegat sejumlah armada kapal bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla pada Senin, 18 Mei lalu. Armada GSF dicegat secara bertahap, menyebabkan sejumlah relawan ditangkap, termasuk sembilan WNI. Seluruh relawan GSF telah dibebaskan pada Kamis, 21 Mei waktu setempat dan diterbangkan ke Turki menggunakan pesawat sewaan otoritas setempat.
Perlakuan Tidak Manusiawi
Sejumlah WNI melaporkan mendapat perlakuan tidak manusiawi selama penahanan. Beberapa di antaranya mengalami kekerasan fisik seperti dipukul, diinjak, dan disetrum. Bahkan ada laporan pelecehan seksual yang dialami baik laki-laki maupun perempuan. Herman Budianto Sudarsono, salah satu relawan, menangis saat menceritakan pengalamannya. Ia mengatakan banyak korban mengalami cedera berat seperti rusuk patah, tangan patah, kaki patah, dan hidung patah. "Bahkan banyak juga kasus-kasus pelecehan seksual yang diterima oleh baik laki-laki maupun perempuan ketika proses yang panjang tersebut. Belum lagi hal-hal lain terkait dengan kondisi ketika kita ada di penjara dan seterusnya diperlakukan seperti hewan," ucapnya.
Daftar 9 WNI yang Ditangkap
- Herman Budianto Sudarsono (GPCI - Dompet Dhuafa) Kapal Zapyro
- Ronggo Wirasanu (GPCI - Dompet Dhuafa) Kapal Zapyro
- Andi Angga Prasadewa (GPCI - Rumah Zakat) Kapal Josef
- Asad Aras Muhammad (GPCI - Spirit of Aqso) Kapal Kasr-1
- Hendro Prasetyo (GPCI - SMART 171) Kapal Kasr-1
- Bambang Noroyono (REPUBLIKA) Kapal BoraLize
- Thoudy Badai Rifan Billah (REPUBLIKA) Kapal Ozgurluk
- Andre Prasetyo Nugroho (Tempo) Kapal Ozgurluk
- Rahendro Herubowo (Tim Media GPCI dan iNews) Kapal Ozgurluk
Proses Pemulangan
Koordinator Media Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Harfin Naqsyabandy, mengonfirmasi bahwa para WNI terbang dari Istanbul, Turki pada Sabtu, 23 Mei malam dan tiba di Jakarta pada Minggu, 24 Mei sore. Mereka menggunakan pesawat Emirates dengan rute Istanbul-Dubai-Jakarta. Kedatangan mereka disambut di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, sekitar pukul 16.25 WIB. Kerabat para WNI menyambut dengan spanduk dan bendera Palestina, serta bersorak saat mereka keluar dari terminal.
Sambutan Menteri Luar Negeri
Menteri Luar Negeri Sugiono menyambut langsung kepulangan sembilan WNI tersebut. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu pembebasan dan pemulangan, khususnya pemerintah Turki, Yordania, dan Mesir. "Terima kasih, selamat datang kembali, selamat berkumpul dengan keluarga dan tadi dari laporan ada beberapa rekan kita yang mengalami trauma fisik yang akan juga ditangani lebih lanjut," kata Sugiono. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Presiden, Komisi I DPR RI, dan Global Sumud Flotilla.
Kesaksian Relawan
Rahendro Heruwibowo, relawan lainnya, menceritakan pengalaman disiksa. Ia dipukul kepala berkali-kali, diinjak, dan disetrum hingga berteriak kencang. "Selama perjalanan dari satu tempat ke mana itu penuh treatment-treatment, penyiksaan yang kayak misalkan diborgol ini kenceng banget diborgolnya, terus sama dia dimainin gitu. Jalan, nunduk, jatuh, ditendang. Seperti itu kurang lebihnya," ucapnya. Meski mengalami penyiksaan, Herman menegaskan bahwa mereka tidak merasa paling berjasa karena saudara di Palestina jauh lebih menderita.



