Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang mengungkap penyebab keracunan yang dialami puluhan siswa SD Negeri Kauman 1. Hasil uji sampel makanan yang dikonsumsi para siswa menunjukkan adanya cemaran bakteri Escherichia coli (E. coli) yang melebihi batas normal pada salah satu menu, yaitu olahan telur. Temuan ini menjadi dasar dugaan kuat penyebab 35 siswa mengalami gejala keracunan.
Pemeriksaan Laboratorium Ungkap Cemaran E. coli
Ketua Satgas Makanan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus Sekretaris Daerah Kota Malang, Erik Setyo Santoso, mengonfirmasi bahwa seluruh sampel makanan yang diproduksi dan dikonsumsi pada hari kejadian telah diambil. Dari enam jenis menu yang diuji, hanya satu yang menunjukkan kadar bakteri E. coli di atas ambang normal. "Ada satu jenis yang dari hasil labnya kadar bakteri E. colinya di atas ketentuan normal, yaitu di telur. Kalau yang lainnya normal semua, hanya satu yaitu olahan telur," ujar Erik saat dikonfirmasi.
Berdasarkan catatan Disdikbud, total siswa yang terdampak mencapai 35 orang. Mereka dilaporkan mengalami gejala lemas, diare, dan beberapa di antaranya harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit. Kejadian ini bermula setelah para siswa menyantap menu MBG yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.
Langkah Penanganan dan Penghentian Operasional SPPG
Menindaklanjuti temuan tersebut, Satgas MBG Kota Malang mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara seluruh operasional penyaluran makanan dari SPPG yang bersangkutan. Erik menjelaskan bahwa penanganan telah dilakukan secara menyeluruh sejak laporan indikasi keracunan pertama kali diterima. "Dari sampling makanan yang kita ambil, seluruh jenis makanan yang diproduksi dan dikonsumsi pada hari itu kita ambil semua samplingnya," tambahnya.
Penghentian operasional ini bertujuan untuk melakukan investigasi lebih lanjut serta memastikan keamanan pangan sebelum layanan MBG dapat dilanjutkan kembali. Langkah ini juga sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kesehatan para siswa. Disdikbud bersama Satgas MBG terus memantau kondisi siswa yang terdampak dan memberikan pendampingan medis yang diperlukan.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah kota dalam menjaga kualitas dan keamanan pangan yang disalurkan melalui program MBG. Ke depannya, pengawasan terhadap proses produksi dan distribusi makanan akan diperketat untuk mencegah kejadian serupa terulang.



