Kanselir Jerman Friedrich Merz mengumumkan pada Minggu (19/07) bahwa ia akan mengusulkan pengganti Jens Spahn sebagai ketua fraksi blok konservatif setelah berkonsultasi dengan pemimpin Uni Sosial Kristen (CSU) Markus Söder. "Fraksi parlemen, jika diperlukan, tetap berfungsi. Kami akan membicarakan ini dalam komite partai dalam beberapa hari ke depan dan kami akan mengajukan proposal relatif segera, tapi kami tidak sedang dikejar waktu," kata Merz kepada stasiun penyiaran publik ZDF.
Latar Belakang Pengunduran Diri
Jens Spahn, ketua fraksi blok konservatif yang berkuasa di Bundestag, mengundurkan diri pada Sabtu (18/07) di tengah kontroversi atas keputusannya memiliki anak melalui ibu pengganti atau surogasi di Amerika Serikat. Pengunduran diri itu diminta oleh Kanselir Friedrich Merz dari Partai Demokrat Kristen (CDU). Spahn menegaskan ia tidak mengundurkan diri sebagai anggota Bundestag.
Surogasi tidak diizinkan di Jerman dan CDU secara eksplisit menolak legalisasinya. Spahn dan pasangannya, Daniel Funke, memiliki anak melalui ibu pengganti di AS. Keputusan ini menuai kritik tajam dari seluruh spektrum politik Jerman, yang menuduh Spahn menerapkan standar ganda mengingat posisinya yang senior di partai yang mendukung larangan surogasi.
Pernyataan Spahn dan Dampak Politik
"Dalam beberapa hari terakhir, saya menyadari bahwa kebahagiaan pribadi saya dalam membangun keluarga bersama suami dan menjadi seorang ayah tidak bisa sejalan dengan jabatan politik saya," kata Spahn dalam pernyataan yang dilihat oleh kantor-kantor berita. Kanselir Merz menyebut keputusan tersebut "tepat" sekaligus "tak terelakkan", dengan mengatakan bahwa "kredibilitas adalah aset paling berharga dalam politik."
Merz tidak menutup kemungkinan adanya perombakan kabinet. "Ini bisa menjadi peluang," katanya ketika ditanya apakah politisi dari pemerintahan bisa mengambil alih posisi ketua fraksi. Di antara nama pengganti yang disebut media adalah Kepala Kantor Kanselir Thorsten Frei, Menteri Kesehatan Nina Warken (keduanya CDU), dan Menteri Dalam Negeri Alexander Dobrindt (CSU).
Kontroversi Surogasi dan Konsekuensi Hukum
Awal pekan ini, Spahn (45) dan suaminya mengumumkan kelahiran anak mereka melalui unggahan foto di media sosial. Spahn sebelumnya pernah mengatakan bahwa ia merasa sangat sulit menerima gagasan "rahim sewaan" sebagai seorang Kristen sekaligus pria gay, dan ia pernah memilih sesuai garis partai untuk mendukung larangan surogasi di Jerman. Dalam wawancara podcast dengan surat kabar Bild pada Jumat (17/07), Spahn mencoba membela keputusannya, mengatakan ia telah "bergulat dengan diri sendiri dalam waktu lama, termasuk soal surrogasi."
Spahn tidak akan menghadapi konsekuensi hukum di Jerman karena membesarkan anak yang lahir di luar negeri dari ibu pengganti tidak dilarang di Jerman. Ini bukan pertama kalinya Spahn menghadapi kontroversi; sebagai menteri kesehatan era COVID, ia pernah diselidiki atas dugaan penyalahgunaan uang publik, namun penyelidikan dihentikan pada Maret lalu.
Proses Penggantian dan Jadwal
Merz menyebut bahwa semua fraksi parlemen sedang dalam masa reses musim panas dan tidak akan ada sidang parlemen hingga September. "Prosedur dan jadwalnya akan dikoordinasikan dengan komite partai dan fraksi parlemen," katanya. Spahn sebelumnya dipandang sebagai bintang yang tengah bersinar di blok konservatif setelah terpilih kembali sebagai ketua fraksi dengan 85% suara pada Mei lalu.



