Lara Abu Shreia tidak dapat tidur pada Senin (3/8/2026) malam menjelang pemakaman anggota keluarganya yang tewas hampir tiga tahun sebelumnya. Setiap kali memejamkan mata, perempuan berusia 39 tahun itu melihat kembali wajah orang-orang terkasihnya, lalu membuka ponsel dan menelusuri foto-foto lama sebagai persiapan menghadapi perpisahan terakhir.
Pemakaman Massal di Sabra, Gaza
Ribuan warga berkumpul di kawasan Sabra, Kota Gaza, pada Selasa untuk menghadiri pemakaman massal 112 anggota keluarga Abu Shreia dan al-Hassaina. Jenazah para korban baru ditemukan dari balik reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel pada November 2023.
Prosesi pemakaman berlangsung khidmat di tengah duka mendalam. Para pelayat membawa jenazah yang terbungkus kain kafan, sementara perempuan-perempuan menangis histeris dan anak-anak tampak kebingungan melihat keranda yang berjajar panjang. Otoritas kesehatan setempat menyatakan bahwa identifikasi jenazah dilakukan melalui tes DNA dan barang-barang pribadi yang ditemukan di lokasi.
Duka yang Tak Terperi
Lara, yang kehilangan 30 anggota keluarganya dalam serangan itu, mengaku masih sulit menerima kenyataan. "Setiap malam saya bermimpi mereka masih hidup. Saya tidak bisa tidur karena selalu teringat wajah mereka," ujarnya kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Selasa (4/8/2026).
Ia menambahkan bahwa proses pemakaman massal ini menjadi penutup bagi masa penantian yang panjang. "Setidaknya kini mereka mendapatkan tempat peristirahatan yang layak. Namun, rasa sakit ini tidak akan pernah hilang," katanya.
Korban Serangan November 2023
Serangan udara Israel pada November 2023 menghancurkan sejumlah bangunan tempat tinggal di kawasan Sabra. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 112 orang tewas dalam insiden tersebut, termasuk 45 anak-anak dan 32 perempuan. Sebagian besar korban adalah anggota keluarga besar Abu Shreia dan al-Hassaina yang tinggal berdekatan.
Jenazah yang baru ditemukan ini merupakan bagian dari puluhan korban yang masih tertimbun reruntuhan. Tim penyelamat menggunakan alat berat untuk mengevakuasi korban, sebuah proses yang memakan waktu karena keterbatasan peralatan dan bahan bakar di Gaza.
Respons Internasional dan Harapan
Pemakaman massal ini kembali menyoroti krisis kemanusiaan yang berkepanjangan di Gaza. Organisasi internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah berulang kali menyerukan gencatan senjata dan akses kemanusiaan yang lebih luas. Namun, hingga kini, situasi di lapangan masih memprihatinkan.
Menurut laporan terbaru dari UNRWA, lebih dari 1,7 juta warga Gaza mengungsi dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal. Infrastruktur dasar seperti air bersih, listrik, dan layanan kesehatan masih sangat terbatas.
Bagi Lara, pemakaman ini bukanlah akhir dari perjuangan. "Kami ingin dunia tahu bahwa kami masih hidup. Kami ingin keadilan bagi keluarga kami," tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Israel mengenai temuan jenazah terbaru ini. Kompas.com akan terus memantau perkembangan situasi di Gaza.



