Trump Perintahkan Kapal Induk ke Timur Tengah, Ketegangan dengan Iran Meningkat
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa kapal induk kedua akan segera dikirim ke kawasan Timur Tengah. Pengiriman ini dinilai sebagai peningkatan ancaman militer terhadap Iran, yang tengah terlibat dalam negosiasi mengenai program nuklirnya. Trump menyatakan, "Kapal itu akan segera berangkat," dalam keterangan kepada wartawan pada Jumat (13/2) waktu setempat, merespons laporan bahwa kapal induk USS Gerald R. Ford akan dipindahkan dari Karibia.
"Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya," tambah Trump, seperti dilansir kantor berita AFP pada Sabtu (14/2/2026). Pernyataan ini memperkuat spekulasi bahwa AS siap menggunakan kekuatan militer jika diplomasi gagal. Kapal induk tersebut, yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia, diharapkan dapat memengaruhi dinamika keamanan regional.
Seruan Intervensi Internasional dari Putra Shah Iran
Di sisi lain, Reza Pahlavi, putra dari Shah terakhir Iran yang hidup dalam pengasingan, kembali menyerukan intervensi internasional untuk mendukung rakyat Iran. Tokoh oposisi yang bermukim di AS ini mendesak warga Iran di dalam dan luar negeri untuk melanjutkan demonstrasi menentang republik Islam. Dalam Konferensi Keamanan Munich, Pahlavi menyatakan bahwa Iran membutuhkan "faktor penyeimbang" untuk menggulingkan otoritas ulama.
"Saya pikir banyak warga Iran berharap intervensi akan menetralkan instrumen penindasan rezim," katanya, seperti dilaporkan AFP. Seruan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan domestik dan internasional terkait situasi politik di Iran.
Insiden Penusukan di Arc de Triomphe Paris
Polisi Prancis menembak mati seorang pria bersenjata pisau di bawah Arc de Triomphe, Paris, setelah pria tersebut diduga mengancam petugas yang sedang bertugas dalam seremoni. Insiden terjadi pada Jumat (13/2) waktu setempat, saat pria itu mengancam petugas selama acara menyalakan kembali api di makam prajurit tak dikenal.
Salah satu petugas pengawal kehormatan mengalami luka ringan akibat tusukan pisau sebelum petugas lain melepaskan tembakan. Pria itu juga membawa gunting, menambah kompleksitas insiden yang telah menarik perhatian media internasional.
CEO Pelabuhan Dubai Mundur Akibat Skandal Epstein
Sultan Ahmed bin Sulayem mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO DP World, raksasa logistik berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab. Pengunduran diri ini terjadi setelah meningkatnya tekanan terkait hubungannya dengan terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein. DP World mengumumkan perubahan kepemimpinan "berlaku segera" pada Jumat (13/2), dengan menunjuk Essa Kazim sebagai ketua grup dan Yuvraj Narayan sebagai CEO baru.
Perusahaan ini, yang mengelola terminal pelabuhan di enam benua, telah menghadapi tekanan dari mitra bisnis dalam beberapa hari terakhir. Foto Sulayem pun telah dihapus dari situs web perusahaan, menandakan dampak skandal terhadap reputasi korporasi.
Trump Bicara Soal Perubahan Rezim di Iran
Dalam perkembangan terkait, Presiden Trump juga berbicara tentang kemungkinan perubahan rezim di Iran. Dia menyatakan bahwa perubahan rezim akan menjadi "hal terbaik yang bisa terjadi." Pernyataan ini disampaikan di pangkalan militer Fort Bragg, Carolina Utara, sebagai respons terhadap pertanyaan jurnalis mengenai keinginannya atas perubahan politik di Iran.
"Sepertinya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi," kata Trump, menggarisbawahi sikap AS yang semakin keras terhadap pemerintahan Iran. Kombinasi ancaman militer dan retorika politik ini memperlihatkan eskalasi konflik yang berpotensi memengaruhi stabilitas global.