Trump Anggap Kenaikan Harga Minyak Akibat Perang Hanya Urusan Kecil
Konflik militer yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah mendorong harga minyak dunia melambung tinggi. Namun, Presiden AS Donald Trump dengan tegas menyatakan bahwa fenomena ini hanyalah masalah kecil yang tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
Eskalasi Konflik dan Dampaknya pada Pasar Minyak
Serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari 2026 berakibat fatal dengan gugurnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Iran tidak tinggal diam dan langsung membalas dengan meluncurkan serangan drone serta rudal ke berbagai pangkalan militer AS dan fasilitasnya di negara-negara Asia Barat, termasuk Qatar, Irak, Bahrain, dan Arab Saudi. Serangan balasan juga diarahkan ke Israel, memperpanjang siklus kekerasan di kawasan tersebut.
Kondisi ini menciptakan ketakutan di kalangan operator kapal pengangkut minyak, yang enggan melintasi Selat Hormuz—jalur vital bagi distribusi minyak global. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak drastis, bahkan menembus level USD 100 per barel. Beberapa negara penghasil minyak utama, seperti Kuwait dan Uni Emirat Arab, terpaksa mengurangi produksi karena penyimpanan mereka cepat penuh akibat penutupan Selat Hormuz. Irak juga mulai menghentikan produksinya sejak minggu lalu, memperparah ketegangan pasokan.
Pernyataan Kontroversial Trump
Menanggapi lonjakan harga minyak yang dipicu oleh perang yang ia kobarkan, Trump menyampaikan pernyataan mengejutkan. Dalam unggahan di platform Truth Social pada Senin (9/3/2026), ia menggambarkan kenaikan harga minyak sebagai pergerakan jangka pendek dan menyebutnya sebagai 'harga yang sangat kecil untuk dibayar'.
"Harga minyak jangka pendek, yang akan turun dengan cepat ketika penghancuran ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar bagi AS, dan dunia, dan keamanan dan perdamaian," tulis Trump. Ia bahkan menambahkan, "HANYA ORANG BODOH YANG AKAN BERPIKIR SECARA BERBEDA," menunjukkan sikapnya yang tidak kompromi terhadap kritik yang mungkin muncul.
Sebelumnya, dalam unggahan media sosial pada Sabtu (7/3) pagi, Trump mengancam akan memperluas target serangan ke area dan kelompok di Iran yang sebelumnya tidak dianggap sebagai sasaran. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap sumpah Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang berjanji tidak akan mundur dalam konflik ini.
Perkembangan Terkini di Iran
Sementara itu, Iran telah mengumumkan pengganti untuk mendiang Ayatollah Ali Khamenei. Mojtaba Khamenei, putra almarhum, ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Garda Revolusi Iran telah menyatakan kesetiaan mereka kepada pemimpin baru ini, menandakan kelanjutan dari kebijakan keras Tehran dalam menghadapi tekanan dari AS dan sekutunya.
Lonjakan harga minyak ini tidak hanya mempengaruhi pasar global tetapi juga menimbulkan kekhawatiran di berbagai negara yang bergantung pada impor energi. Namun, Trump tetap bersikukuh bahwa langkah-langkah yang diambilnya adalah demi keamanan dan perdamaian jangka panjang, meski harus dibayar dengan gejolak ekonomi sementara.
