Trump: Iran Harus Buka Kembali Selat Hormuz untuk Kesepakatan Damai
Trump: Iran Harus Buka Selat Hormuz untuk Perdamaian

Trump Tegaskan Syarat Kunci untuk Kesepakatan Damai dengan Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikeras bahwa Iran harus membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas minyak global jika ingin mencapai kesepakatan perdamaian dengan Washington. Pernyataan tegas ini disampaikan Trump dalam forum Future Investment Initiative (FII), sebuah konferensi bisnis Arab Saudi yang digelar di Miami, Florida, Amerika Serikat.

Negosiasi Berlangsung Meski Ada Penolakan Publik

Dalam pidatonya yang dilansir oleh AFP dan Anadolu Agency, Trump mengklaim bahwa negosiasi untuk mengakhiri konflik antara kedua negara sedang berlangsung. Dia menyatakan, "Kami sedang bernegosiasi sekarang, dan akan sangat bagus jika kami dapat melakukan sesuatu, tetapi mereka (Iran) harus membukanya (Selat Hormuz)." Trump juga menambahkan bahwa Iran siap membuat kesepakatan meskipun ada penolakan dari pejabat-pejabat Iran di depan publik.

Kesalahan Nama yang Menjadi Bahan Candaan

Dalam forum yang digelar pada Jumat waktu AS tersebut, Trump secara tidak sengaja menyebut Selat Hormuz sebagai "Selat Trump" sebelum kemudian meminta maaf. "Mereka harus membuka Selat Trump -- maksud saya, Selat Hormuz. Maaf, saya minta maaf. Kesalahan yang sangat buruk," ujarnya dengan nada bercanda. Trump, yang dikenal mengganti nama beberapa gedung di Washington DC dengan namanya sendiri selama masa jabatan keduanya, menyebut komentarnya itu sebagai "kesalahan" namun menegaskan bahwa "tidak ada insiden dengan saya."

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kondisi Iran dan Dampak Penutupan Selat Hormuz

Trump juga menyoroti kondisi Iran dengan menyebut negara itu "sedang dalam pelarian" dan mengulangi pernyataan bahwa kepemimpinan Teheran, Angkatan Laut, Angkatan Udara, serta program nuklirnya mengalami kerusakan signifikan. Dia bahkan menyebut bahwa mengambil alih kendali minyak Iran adalah "sebuah opsi" seperti yang telah dilakukan AS terhadap Venezuela.

Selat Hormuz, yang sebelumnya terbuka untuk pelayaran internasional, kini secara efektif dibatasi aktivitas perlintasannya sejak awal Maret lalu. Penutupan ini telah memicu gangguan global yang meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi. Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa selat tersebut ditutup untuk kapal-kapal yang berlayar ke dan dari pelabuhan milik "musuh" Iran.

Kekhawatiran Internasional dan Laporan Serangan

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyuarakan kekhawatiran bahwa Iran akan berupaya menetapkan "sistem tol" permanen untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Sementara itu, laporan badan keamanan maritim Angkatan Laut Inggris (UKMTO) menyebutkan bahwa sedikitnya 24 kapal komersial, termasuk 11 kapal tanker, telah diserang atau mengalami insiden di perairan Teluk, Selat Hormuz, atau Teluk Oman sepanjang bulan ini.

Dengan tekanan yang terus meningkat, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi isu kritis tidak hanya bagi hubungan AS-Iran, tetapi juga bagi stabilitas pasar minyak global dan keamanan maritim di kawasan strategis tersebut.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga