Trump Umumkan Dana Rp 84 Triliun untuk Rekonstruksi Gaza
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa negara-negara anggota Dewan Perdamaian akan menyumbangkan lebih dari US$ 5 miliar, setara dengan Rp 84,1 triliun, untuk upaya rekonstruksi di Gaza. Komitmen pendanaan besar ini dijadwalkan akan dibahas secara resmi dalam rapat perdana Dewan Perdamaian yang akan berlangsung di Washington DC pada Kamis, 19 Februari 2026.
Dalam pernyataannya melalui media sosial Truth Social, Trump menegaskan bahwa pertemuan tersebut juga akan membahas pengerahan ribuan personel untuk Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) ke wilayah Gaza. "Pada 19 Februari 2026, saya akan kembali bertemu para anggota Dewan Perdamaian di Institut Perdamaian Donald J Trump di Washington DC, di mana kami akan mengumumkan bahwa negara-negara anggota telah menjanjikan lebih dari US$ 5 miliar untuk upaya kemanusiaan dan rekonstruksi Gaza," tulis Trump, seperti dilansir Anadolu Agency.
Israel Sahkan Tanah Tepi Barat sebagai 'Milik Negara'
Sementara itu, pemerintah Israel menyetujui proposal kontroversial untuk mendaftarkan sebagian besar tanah di Tepi Barat sebagai "milik negara" jika warga Palestina tidak dapat membuktikan kepemilikannya. Langkah ini merupakan yang pertama sejak pendudukan Israel atas Tepi Barat pada tahun 1967, dan diajukan oleh Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, Menteri Kehakiman Yariv Levin, serta Menteri Pertahanan Israel Katz.
Otoritas Palestina langsung memberikan reaksi keras, memperingatkan bahwa tindakan Israel tersebut sama dengan "aneksasi de-facto". Kelompok Hamas juga mengecam keputusan ini, menyatakannya sebagai "tidak sah" karena dikeluarkan oleh otoritas pendudukan yang tidak diakui.
Kecaman Internasional Mengalir Deras
Berbagai negara, termasuk Arab Saudi, Mesir, Yordania, dan Turki, turut mengutuk langkah Israel tersebut. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional yang bertujuan "memaksakan realitas hukum dan administratif baru di Tepi Barat yang diduduki" dan merusak upaya perdamaian di kawasan.
Babak Kedua Perundingan Nuklir AS-Iran di Jenewa
Di berita internasional lainnya, putaran kedua perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan pada Selasa, 17 Februari 2026, di Jenewa, Swiss. Oman, yang menjadi tuan rumah putaran pertama, akan tetap bertindak sebagai mediator. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah berangkat dari Teheran menuju Jenewa untuk menghadiri pertemuan ini, yang diharapkan dapat melanjutkan dialog setelah kesepakatan awal pada 6 Februari lalu.
Dengan perkembangan ini, ketegangan di Timur Tengah terus memanas, sementara upaya diplomatik dan kemanusiaan berjalan beriringan. Komitmen dana besar dari Dewan Perdamaian dan reaksi keras terhadap kebijakan Israel menunjukkan kompleksitas situasi yang memerlukan perhatian global.